EQUATOR – TV, BULUNGAN – Selama 60 hari penuh, tim WANADRI kelompok penjelajah alam dari Bandung, berhasil menelusuri pedalaman Kalimantan Utara, menyusuri Sungai Kayan Hulu dan menyambangi desa-desa terpencil di wilayah Apau Kayan, Kabupaten Malinau.
Bukan sekadar petualangan biasa, expedisi ini banyak meninggalkan cerita yang menginspirasi, dimulai dari Desa Data Dian dan berakhir di Dermaga Desa Long Pelban, Bulungan, sejauh 282 kilometer.
Dengan menggunakan perahu dayung, river boat, hingga kayak, perjalanan memakan waktu total 64 hari, melewati medan berat dan tantangan alam yang tak mudah.
Selama ekspedisi, para anggota WANADRI tidak hanya fokus pada petualangan, namun menyatu dengan warga lokal, ikut memancing di anak sungai, melihat langsung kehidupan masyarakat perbatasan, dan menggelar kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis di Desa Data Dian.
“Kami ingin merekam kondisi nyata masyarakat di perbatasan. Mulai dari akses yang terbatas, hingga potensi luar biasa yang belum banyak diketahui orang,” ujar Mochamad Asis, Ketua Ekspedisi dalam wawancaranya dengan Tim Liputan Equator TV pada Sabtu (30 /8/2025).
Ekspedisi ini juga menjadi bagian dari upaya membangkitkan semangat nasionalisme generasi muda, sekaligus mendukung pencapaian bonus demografi 2045.
Menurutnya, Sungai Kayan menyimpan potensi besar dari energi, ekowisata, hingga arung jeram kelas dunia. Namun, akses yang masih sulit menjadi tantangan utama.
“Jika infrastruktur ditingkatkan, kawasan seperti Riampeko hingga Riamungun sampai Nahagamang bisa jadi destinasi arung jeram internasional,” jelasnya.
Amri, Komandan Operasi ekspedisi juga menambahkan, bahwa medan Sungai Kayan yang deras dan berliku menguji kekompakan tim. “Kami belajar banyak dari giram-giram (jeram-jeram) sungai. Ini pengalaman luar biasa,” ucapnya.
Semua perjalanan ini didokumentasikan. Tim WANADRI akan merilis film dokumenter yang merekam keindahan alam, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Apau Kayan. Tujuannya adalah memperkenalkan wilayah perbatasan Indonesia kepada khalayak luas, bahkan dunia.
Ekspedisi ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, M.Si. “Saya bangga dan mendukung penuh. Apalagi saya sendiri berasal dari Long Nawang. Potensi alam dan budaya kita luar biasa,” ucapnya.
Ingkong berharap, dokumentasi perjalanan ini bisa menjadi sarana promosi untuk menarik wisatawan dan investor. “Kalau bisa dijual ke luar negeri, tayangkan lebih luas,” tambahnya.
Awalnya ekspedisi dijadwalkan selama 45 hari. Namun, karena kondisi lapangan yang berat, perjalanan pun molor hingga 64 hari. Tim WANADRI dijadwalkan kembali ke Bandung pada 1 September 2025 lewat jalur Tarakan. Meski penuh tantangan, mereka mengaku bersyukur bisa menuntaskan ekspedisi ini.
“Tidak semua orang bisa masuk ke wilayah sedalam ini. Kami merasa beruntung bisa melihat langsung keindahan alam yang belum banyak dijamah manusia,” tutup Asis. (RT)










