EQUATOR-TV, TARAKAN — Upaya meningkatkan kualitas produksi rumput laut sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan di Kota Tarakan diwujudkan melalui serah terima alat pengering rumput laut berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), pada Minggu pagi (16/11/2025).
Alat ini merupakan hasil rancangan mahasiswa penerima Beasiswa Pertamina Foundation dalam Program Desa Energi Berdikari.
Kegiatan serah terima yang dilaksanakan di RT 15 Pantai Amal ini dipimpin oleh Linda Sartika, dosen Teknik Elektro Universitas Borneo Tarakan (UBT), yang sekaligus mentor Program Sobat Bumi.
Menurut Linda, seluruh penerima beasiswa Sobat Bumi diwajibkan memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan menuangkannya dalam bentuk proyek berbasis kebutuhan lapangan.
“Adik-adik Sobat Bumi ini adalah generasi muda berinovasi tinggi. Mereka melihat langsung kondisi petani rumput laut yang masih mengandalkan penjemuran tradisional yang bergantung cuaca. Karena itu muncul ide membuat alat pengering yang lebih efektif dan memanfaatkan energi surya,” jelasnya.
Alat pengering berbasis PLTS ini dirancang untuk memangkas waktu pengeringan hingga 50 persen dari metode konvensional.
Jika biasanya proses pengeringan memakan waktu sekitar tiga hari, alat ini diproyeksikan mampu mengeringkan satu pikul rumput laut dalam waktu sekitar tujuh jam dengan bantuan blower dan pemanfaatan panel surya. Selain mempercepat proses, sistem tertutup pada alat ini membuat hasil panen terhindar dari debu dan kotoran.
Program ini merupakan bagian dari skema Desa Energi Berdikari yang berjalan selama tiga tahun. Tahun pertama fokus pada pembuatan alat, tahun kedua direncanakan pelatihan pengolahan rumput laut bagi ibu-ibu rumah tangga, dan tahun ketiga diarahkan pada pengembangan produk turunan seperti makanan dan kosmetik berbasis rumput laut.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua RT 15 Pantai Amal Nur Alam, penanggung jawab teknis Darwis dan Chandul, perwakilan UBT, serta mahasiswa penerima Beasiswa Pertamina Foundation angkatan PF11 dan PF12 yang terlibat dalam pengembangan program.
Dalam kesempatan tersebut, Victor Patabang selaku koordinator program menyampaikan bahwa alat ini merupakan bentuk komitmen mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Tujuan kami adalah memudahkan proses pengeringan, meningkatkan kualitas hasil rumput laut, dan mendukung perekonomian warga. Kami berharap ini bukan akhir, tetapi awal untuk melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Pada sesi berikutnya, Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro UBT, Triyanto Nur Rohman, menjelaskan peran teknis yang dijalankan timnya dalam perancangan alat.
“Teman-teman PF11 berasal dari berbagai jurusan, jadi kami membantu dari sisi teknis. Panel surya, sistem blower, hingga konstruksi alat kami eksekusi dengan matang. Ini bentuk kontribusi kami bagi pengabdian masyarakat,” ungkapnya.
Kegiatan serah terima ini juga menjadi momentum penyerahan tanggung jawab pemeliharaan alat kepada warga, di mana Ketua RT 15 dan tim teknis ditunjuk sebagai pengelola. Tim mahasiswa tetap akan melakukan pendampingan untuk memastikan alat berfungsi optimal.
“Kami berharap alat ini bermanfaat bagi masyarakat, menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa, dan menjadi awal dari keberlanjutan program di tahun kedua dan ketiga,” tutup Linda.
Melalui inovasi berbasis energi surya ini, diharapkan petani rumput laut di Pantai Amal dapat meningkatkan mutu hasil panen, memperluas peluang usaha, serta memperkuat perekonomian lokal melalui kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan Pertamina Foundation.(RS).










