EQUATOR TV, TARAKAN – Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat BIMA Kemdiktisaintek 2026 resmi memulai rangkaian kegiatan di Kalimantan Utara (Kaltara).
Program bertemakan Inkubasi Kewirausahaan Inklusif Berbasis GREENCRAFT atau Green Eco Craft bagi pemuda disabilitas di Kaltara ini, dilaksanakan pada Minggu pagi (9/8/2026) bertempat di Gedung Perpustakaan Daerah, Tarakan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara AYS (Action of Youth for Sustainability) Indonesia dengan Tim Penyusun dari Universitas Borneo Tarakan, yang terdiri dari Dr. Tinik Sugiati, S.Pd, M.M, Prof. Dr. Ing. Ir. Daud Nawir, S.T, M.T, dan Dr. Meina Wulansari Yusniar, S.E, M.Si yang juga hadir sebagai narasumber.
Kolaborasi ini bertujuan menciptakan ekosistem wirausaha yang inklusif dan ramah lingkungan, sekaligus memberi ruang bagi pemuda disabilitas untuk berdaya secara ekonomi.
“Universitas Borneo Tarakan sangat memfasilitasi kegiatan ini dari awal sampai pelaporan. Konsep Green Craft ini adalah gabungan ekonomi kreatif dan kerajinan ramah lingkungan. Harapannya pelatihan ini bisa menciptakan ekosistem bisnis awal dan berlanjut. Kami juga akan menyerahkan semua alat agar bisa dipakai di kegiatan berikutnya”, ujar Tinik.
“Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Tarakan dan AYS Indonesia. Kegiatan ini merupakan wujud dukungan hibah BIMA Kemdiktisaintek 2026 dan implementasi SDGs oleh Universitas Borneo Tarakan,” tambahnya.
Sementara itu, Abrar Putra Siregar selaku Founder AYS Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendampingi para peserta selama masa inkubasi. AYS akan memberikan modul pelatihan, mentoring, serta jejaring agar produk-produk Greencraft dari pemuda disabilitas dapat dikenal lebih luas.
AYS percaya anak muda adalah agen perubahan. Dengan dukungan BIMA Kemdiktisaintek dan kampus, diharapkan lahir wirausahawan-wirausahawan baru dari Kaltara yang inklusif dan peduli lingkungan.
“Kolaborasi pemuda dengan teman-teman disabilitas di Tarakan ini sangat masif. Saat ini kita sedang melatih 25 penyandang disabilitas membuat produk Ecoprint. Kami yakin teman-teman disabilitas punya semangat besar untuk berkembang. Harapannya melalui sinergi ini, pelatihan Greencraft bisa menciptakan ekonomi baru yang berkelanjutan dan inklusif bagi pemuda disabilitas di Kalimantan Utara,” ujarnya.
Sejumlah peserta juga mengaku merasa senang dan banyak hal baru yang baru mereka ketahui lewat kegiatan ini. Seperti yang dipaparkan Eka.
“Saya senang karena mendapat banyak ilmu. Dan semoga banyak teman-teman dari penyandang disabilitas bisa memperoleh ilmu dan menerapkan di kehidupan supaya bisa menghasilkan sesuatu di hidup mereka,” ujar Eka.
Demikian halnya juga dengan Arfan. “Yang saya rasakan saya jadi lebih tahu tentang daun-daun. Ya, dari kegiatan AYS Indonesia ini”, tuturnya.
Program BIMA 2026 ini menjadi salah satu upaya nyata Ditjen Risbang Kemdiktisaintek dalam mendorong kemitraan antara perguruan tinggi, organisasi pemuda, dan masyarakat.
Diharapkan setelah program ini selesai, para peserta mampu secara mandiri mengelola usaha dan berkontribusi pada ekonomi lokal di Kaltara.
Dengan adanya inkubasi Greencraft ini, pemuda disabilitas di Kaltara tak hanya diberdayakan, tetapi juga dilibatkan langsung dalam gerakan ekonomi hijau yang berkelanjutan.(IZ)








