EQUATOR-TV, TANA TIDUNG – Pemerintah Kabupaten Tana Tidung melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP) terus melakukan peningkatan mutu dan kualitas jalan dan jembatan di pusat kota Tideng Pale.
Jalan-jalan yang berlobang, jembatan dan plat duiker (deker/konstruksi) yang sudah mulai rusak termakan usia terus dibenahi untuk memperlancar arus lalu lintas jalan raya.
Perbaikan jalan atau jembatan sekelas deker oleh DPUPRPKP Tana Tidung, merupakan salah satu komitmen pemerintah untuk menjamin mutu dan kualitas infrastruktur yang nyaman sebagi roda perputaran kehidupan dan ekonomi masyarakat.
Potret pembenahan deker tersebut, salah satunya terlihat di jalan Jenderal Sudirman, Tideng Pale.
Deker yang menjadi bagian dari saluran pembuangan limbah rumah tangga tersebut, dibongkar dan direnovasi, agar tidak mengganggu aktifitas warga.
Pembangunannya satu paket dengan renovasi atau siring irigasi sepanjang kurang lebih 40 meter ke sungai, sebagai pembuangan akhir limbah buangan rumah tangga.
Pengerjaan yang berlangsung sekitar 3 minggu tersebut, kini telah memasuki tahap finishing, sebagai arus utama lalu lintas warga.
Selama pengerjaan berlangsung arus lalu lintas dialihkan ke jalan lain, atau bagi kendaraan roda dua untuk sementara harus naik trotoar untuk sekedar melintas.
Dalam wawancara dengan awak media, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga DPUPRPKP Tana Tidung, Didakus Pito mengatakan bahwa pembongkaran deker sebelumnya karena tapak kontruksinya sudah berlobang dan membahayakan pengguna kedaraan.
“Untuk kasus plat deiker atau ada jalan longsor memang sifatnya urgensitas ya. Kalau ada yang seperti itu, pemda tetap mengerjakan,”ucap Didakus.
“Dikatakan banyak, tidak juga. Tetapi, ada aja situasinya seperti itu,” imbuhnya.
Selain itu, deker tersebut juga mengganggu estetika jalan raya yang menampakkan sisi kumuh kota Tana Tidung.
Sementara itu, Kepala DPUPRPKP Tana Tidung, Ir.Rico Ardianto, S.T, M.T mengatakan bahwa tatus pekerjaan perbaikan fasilitas umum, seperti jalan, jebatan yang secara tiba-tiba rusak merupakan proyek insidentil dan urgent yang dianggarkan melalui APBD tanpa melalui perencanaan utuh.
Alasannya karena fasitas infrastruktur tersebut rusak akibat faktor usia, gejala alam, sehingga pengerjaan bersifat urgen dan insidentil.
“Karena itu jalan protokol, masyarakat mobilitasnya tinggi, dan ada insiden disitu, makanya kami kerjakan cepat. Jadi karena penanganannya harus segera, jadi dari Bina Marga saya perintah untuk segerakan lokasi itu, untuk membangun deker/platnya,” tegas Rico.
Atas dasar itulah pihak Bina Marga selaku penanggung jawab infrastruktr jalan dan jebatan bergerak cepat untuk melakukan perbaikan secara maraton dengan mengerahkan tenaga konstruksi berpenaglaman untuk mengerjakannya.
Widodo selaku professional kontruksi DPUPRPKP mengatakan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan hanya dalam kurun waktu 15 hari saja, meski waktu pengerjaan sesuai kontrak proyek ditarget 30 hari kerja.
“Pengerjaanya ini hampir 70% atau 50% lebih. Satu paket dengan plat deiker itu. Untuk drainasenya 44 meter. Pengerjaan drainase baru 4 hari. Kalau jembatannya sudah 10 hari. Jadinya targetnya 1 bulan”, terang Widodo.
Kecepatan dalam perbaikan renov plat duiker dan renovasi siring drainase antar wilayah proyek, merupakan pusat mobilisasi warga KTT yang sangat tinggi.
Potret pembenahan infrastruktur vital DPUPRPKP ini banyak terjadi diberbagai titik dan disejumlah jalan lainnya. Semua dikerjakan atas dasar urgensi dan insidentil.
Tujuannnya tak lain untuk memberikan pelayanan prima, cepat dan memiliki azas manfaat bagi kepentingan masyarakat.(SMO)









