EQUATOR-TV, TANA TIDUNG – Pemerintah Kabupaten Tana Tidung saat ini tengah mempersiapkan pusat perputaran ekonomi baru, khususnya di bidang jasa transportasi berat yang belum dikenal khalayak, terutama warga diluar KTT, sebagai potensi perekonomian raksasa kedepan.
Potensi ekonomi tersebut adalah proyek jalan raksasa sepanjang kurang lebih 400 meter yang menghubungkan pelabuhan kapal bongkar muat milik Dinas Perhubungan KTT di Desa Sebawang, Tidung Pale.
Jalan tersebut memiliki lebar sepanjang 16 meter, termasuk cadangan jalan lainnya di sisi kiri dan kanan, yang juga sepanjang kurang lebih 40 meter.
Sebagaimana dijelaskan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP) Tana Tidung, Ir.Rico Ardianto, S.T, M.T dalam wawancaranya dengan awak media.
“Bina Marga ada pekerjaan parsial di tahun ini, yang pertama yaitu pekerjaan jalan kawasan. Tahun ini kita menyelesaikan setengah lingkaran untuk di depan Kantor Bupati dan Kantor DPRD, dan itu sampai aspal, landskape jalannya,” terang Rico.
“Dan untuk setengah lingkarannya lagi itu kita multi-kan, kita lelang di bulan 10 ini. Selanjutnya, untuk pekerjaan antara Tidung Pale sampai di Sesayap, kita selesaikan dengan pekerjaan parsial dan multi. Dan itu ada 4 segmen, semuanya kita aspal, dan insyaallah di 2028 itu sudah selesai,” imbuhnya.
Pembangunan jalan umum tersebut merupakan salah satu dari beberapa jalan antar kecamatan se-Kabupaten Tana Tidung yang dibangun pemerintah melalui Bina Marga DPUPRPKP Tana Tidung.
Tujuannya adalah membuka akses isolasi antar kecamatan dan desa, serta membangun perputaran ekonomi yang mapan ditengah-tengah masyarakat.
Sementara itu Kepala Bidang Bina Marga DPUPRPKP Tana Tidung, Didakus Pito mengungkapkan bahwa Jalan Pelabuhan Sebawang Simpang Selor dibiayai dengan 3 skema pembiayaan, yakni menggunakan APBN atau dana Inpres Jalan Daerah, dana DAK dan menggunakan dana APBD KTT.
“Bina Marga ini kan menangani jalan dan jembatan, secara garis besar pembiayaan melalui APBD, dana DAK, dana Inpres Jalan Daerah. Sehingga memang kalau di APBD sendiri, ada parsial sama multi years. Yang sedang kita persiapkan dan kerjakan ini adalah yang DAK juga ada, parsial APBD juga ada, dan persiapan untuk multi 3 tahun kedepan,” ujar Didakus.
Jalan Pelabuhan Sebawang ke Simpang Selor adalah merupakan satu kesatuan pembangunan jalan utama lainnya yang menghubungkan wilayah-wilayah kecamatan dan desa di KTT, diantaranya jalan Seputuk, rencana jalan Seludoi, jalan Tengku Dacing dan jalan Desa Singkong.
Seluruh jalan ini sudah dibuka dan dalam tahap pengerjaan yang ditarget sesuai dengan program Bupati KTT, Ibrahim Ali yang akan dirampungkan paling lambat 2027 dan awal tahun 2028 mendatang.
“Mudah-mudahan cepatlah diperbaiki, jalanannya diaspalah, atau pengerasanlah dulu, karena perputaran perekonomian kita disini, ada very juga, biar cepat jalurnya,” ujar Rian seorang supir truk, yang seringkali melintasi jalur ini.
Selain beberapa mean road atau jalan utama penghubung antar wilayah kecamatan KTT, pembangunan jalan di Pusat Pemerintahan (Puspem) juga merupakan program prioritas.
Pembangunan instalasi jalan Puspem menjadi perhatian sebab merupakan ikon KTT dan pusat perputaran utama ekonomi di masa yang akan datang.
Seluruh instalasi jalur jalan-jalan utama ini masuk dalam program pembiayaan multi years dengan menggunakan 3 alokasi penganggaran yakni APBN, APBD KTT dan DAK.
Menurutnya, jalan Pelabuhan Sebawang Simpang Selor saat ini masih berupa pengerasan atau agregat namun sudah menjadi akses utama kendaraan truk roda 6 hingga roda 10, khususnya truk-truk angkut Kelapa Sawit dari seberang sungai Sesayap.
Agar jalan baru tersebut tidak mengalami kerusakan parah, kendaraan berat yang melintas di wilayah ini mulai dibatasi berat muatannya, sebelum peningkatan jalan cor beton di lakukan.
Peningkatan jalan itu memang didesain cor beton, namun belum secara total, melainkan diprioritaskan pada titik yang mengalami kerusakan parah, dikarenakan menyesuaikan anggaran yang tersedia.
Panjang jalan dari jalan utama Tidung Pale, atau arah ke kiri kantor Bupati KTT, setelah Markas Kodim mencapai 400 meter hingga ke dermaga.
Diujung jalan terdapat pelabuhan kapal-kapal muatan alat berat atau LCT. Selain memuat alat berat, kapal LCT juga memuat truk kepala sawit dari seberang sungai.
Keberadaan jalan tersebut menyebabkan pemungkiman warga mulai berdiri, bahkan sudah mulai dibangun penginapan oleh pengusaha KTT di jalur proyek jalan PU tersebut.
Bahkan para pengusaha batu agregat, mulai membidik usaha hotmix aspal sebagai prospek usaha menjanjikan dimasa yang akan datang. (SMO)








