EQUATOR-TV, TANJUNG PALAS – Perkebunan semangka di SP 6B, Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, semakin menunjukkan potensinya sebagai sentra produksi semangka unggulan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Dengan sistem pertanian organik yang mencapai 95 persen bebas bahan kimia ini, para petani mulai merasakan hasil panen yang lebih berkualitas dan diminati pasar.
Keberhasilan ini, mendapat perhatian serius dari Pemprov Kaltara melalui Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, yang terus mendorong petani untuk menjadikan semangka sebagai produk unggulan daerah. Selain memberikan pendampingan dalam teknik budidaya, Pemprov Kaltara juga membantu memperluas akses pemasaran agar semangka SP 6B bisa menjangkau lebih banyak konsumen.
Salah satu petani semangka di SP 6B, Yadi, mengungkapkan bahwa sistem tanam semangka memerlukan perhatian khusus, terutama dalam pengolahan lahan dan pengendalian air. “Pengolahan lahan harus maksimal, tapi yang paling penting adalah pengendalian air. Karena di sini ada pasang surut, kita harus bisa mengatur kapan hujan turun dan kapan air pasang agar tanaman tidak terdampak,” jelasnya pada Tim Liputan Equator TV pada Minggu Siang (02/02/25).
Selain itu, menurut Yadi, musim juga menjadi faktor penentu keberhasilan panen. Ia mengakui bahwa, menanam semangka lebih mudah saat musim kemarau dibandingkan musim hujan. “Kalau musim kemarau, kita bisa lebih mengendalikan pertumbuhan tanaman. Tapi kalau musim hujan, kita bergantung pada alam, dan itu sulit diprediksi,” tambahnya.
Dari segi hasil, Yadi memperkirakan bahwa satu pohon semangka bisa menghasilkan sekitar 5 kilogram buah. “Kalau kita tanam 1.000 pohon, hasilnya bisa mencapai 5 ton. Kalau 2.000 pohon, bisa 10 ton. Tapi tetap saja, cuaca menjadi tantangan utama, karena tidak selalu panen berjalan maksimal,” ujarnya.
Untuk pemasaran, permintaan terhadap semangka SP 6B cukup tinggi, tetapi produksi masih terbatas. Yadi sendiri selain sebagai petani juga berperan sebagai pedagang, sehingga ia merasakan langsung tingginya minat pasar. “Permintaan Alhamdulillah bagus, tapi produksi masih kurang. Saat ini saya baru bisa memenuhi pasar di wilayah Kaltara, paling jauh sampai Kabupaten Tana Tidung (KTT), belum sampai ke Tarakan,” katanya.
Dengan kualitas semangka yang lebih sehat dan alami, serta dukungan dari Pemprov Kaltara, para petani di SP 6B berharap produksi bisa terus ditingkatkan agar bisa memenuhi permintaan yang lebih luas. Jika pengelolaan air dan musim bisa lebih teratasi, bukan tidak mungkin SP 6B akan menjadi pusat produksi semangka terbesar di Bulungan dan sekitarnya.(DK)










