EQUATOR-TV, TARAKAN – Diantara carut marutnya issue penghapusan insentif guru, mantan guru yang satu ini, justru asyik mendulang rizki di dunia baru yang kini digelutinya. Sebut saja bang “Akbar”, panggilan akrab seorang pengusaha muda Akbar, S.Pd, 34 tahun yang sukses menjadi pengusaha kepiting bakau selama lebih dari 15 tahun, dibawah bendera PT.Cakke Bone Group, di kawasan Perikanan, Tarakan, Kalimantan Utara.
Karena kesibukannya sebagai owner dan sulitnya membagi waktu, Akbar akhirnya “terpaksa” harus memilih dan meninggalkan profesinya sebagai seorang guru dan fokus menjadi seorang pengusaha kepiting yang kini sukses mengeksport ke beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong dan China. Dengan berbekal keahliannya sebagai guru dan lulusan Sarjana Pendidikan Sastra Indonesia, mengajarkannya piawai berkomunikasi dengan teknik public speaking yang baik.
Permintaan pasar international, kian hari kian tinggi, terutama restourant-restaurant besar, serta kebutuhan mensuplly kepiting untuk berbagai perayaan besar di luar negeri, seperti Imlek di China, Deepavali di India dan sebagainya. “Banyak sedikitnya export, tergantung kebutuhan momennya di sana. Anggaplah misalnya momen Imlek, kalau momen Imlek berarti bertambah kebutuhannya Cina. Tapi kalau Malaysia, dia monoton sehari-hari dia butuh, tapi kebutuhannya terbatas untuk memenuhi kebutuhan restoran. Ada momen-momen tertentu hari-hari kerajaan Malaysia, mereka juga butuh”, jelas Akbar bersemangat.
Saat ditanya, tujuan ekspor yang terbesar mana yang dan spesifikasi apa yang selama ini mendominasi, Akbar menyebut negara Malaysia dan beragam permintaan khusus lainnya. “Untuk saya pribadi, lebih cenderung ke Malaysia. Ada yang spesifikasinya minta kepiting betina terus, tapi kalau untuk kepiting jantan kebanyakan ke Malaysia. Tapi kalau untuk Singapura sendiri, kita dibatasi pengiriman setiap harinya sekitar 5 kotak dengan @30 kilo per kotak,” imbuh Akbar.
Dari semua komoditi perikanan yang ada, mengapa memilih kepiting sebagai pilihannya, Akbar menuturkan alasannya. “Kenapa harus kepiting ? Karena kepiting yang pertama, untuk produksi bahan bakunya mudah dijangkau, setiap harinya selalu ada kepiting. Kemudian dari sisi pekerjaannya juga simpel, karena kita tidak harus pakai sepatu khusus dan tidak perlu frozen,” tutur Akbar pada Tim Liputan pada Rabu malam (16/04/25), di lokasi usahanya.
Selain itu, Akbar juga membagikan tips bagaimana cara memproses kepiting-kepiting itu. “Yang pertama itu adalah kepiting ini kan dari tambak, jelas dia berlumpur, jadi setelah dari tambak, dia harus disiram dan dibersihkan dulu, kemudian dimasukan ke kolam yang dilengkapi mesin oksigen, supaya kepiting tersebut segar. Setelah diangkat, tidak langsung di packing, tetapi kita pisah dan keringkan dahulu, setelah itu siang baru kita masukkan ke dalam gabus stereofoam,” ujarnya.
Dari semua kepiting yang dia jual, Akbar menyebut jenis kepiting H-7, yakni kepiting dengan berat 700 gram/per ekor, adalah yang termahal, dengan harga Rp.450ribu/per kilo untuk export ke Singapura. Selain itu, yang tak kalah mahal yakni jenis kepiting bertelur yang biasa diexport ke China. Warga China pada musim dingin, lebih menggemari makan kepiting bertelur yang memiliki rasa lebih manis, dibandingkan kepiting yang size-nya besar, sebagaimana yang disukai konsumen Singapura.
Bisnis kepiting yang telah Akbar geluti sejak usia 20 tahun hingga saat ini, telah mampu menyerap SDM lebih dari 10 orang, dan meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah per bulan, membuatnya kian bersemangat. Pilihan meninggalkan pekerjaanya sebagai Guru dan PNS kala itu, tak membuatnya menyesal. Keahliannya berbicara di depan kelas, ternyata kini bermanfaat sekali saat ia harus berkomunikasi dengan para calon dan maupun buyer-buyer yang ia hadapi saat bertransaksi bisnis.
Untuk itu, Akbar mengajak, kaum muda dan mileneal sepertinya, untuk tak hanya menggantungkan diri pada pekerjaan kantoran maupun berharap bisa menjadi pegawai negeri sipil saja, namun menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang dimiliki untuk mau berusaha dan melirik sektor perikanan, sebagai salah satu komoditas unggulan di Kalimantan Utara ini (RK)










