
EQUATOR-TV, REQnews – Anggota DPD RI Abdul Rachman Thaha atau ART setuju dengan wacana revisi UU Nomor 2 Tahun 2022 tentang Kepolisian. Bahkan ia mendorong disatukannya kembali Polri ke TNI.
Ia menilai, sudah banyak oknum Polri yang menimbulkan masalah di tengah masyarakat dengan perilaku hedonisme.
“Wacana merevisi Undang-undang No 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian saya sangat sepakat. Saya yakin ini yang ditunggu-tunggu publik karena banyak pertimbangan perlunya revisi undang-undang kepolisian ini, kan sudah 20 tahun jadi memang perlu di revisi,” kata ART dalam keterangan tertulis kepada REQnews.com.
Menurut ART, banyak oknum kepolisian yang menjadikan hukum sebagai alat untuk mengintimidasi, contohnya seperti dengan memberikan status tersangka yang begitu mudah, yang terkadang tanpa tanpa dasar jelas.
Kemudian, perilaku menghakimi masyarakat lemah juga menjadi sorotan ART, termasuk dugaan adanya anggota Korps Bhayangkara yang menjadi pelindung atau ‘backup-an’ bisnis pertambangan di daerah.
“Belum lagi adanya oknum polisi yang bahkan menjadi pengedar narkoba, dan perilaku oknum Polri dan Polwan yang melakukan perselingkuhan, dan isu backup judi online dan kupon putih,” ujarnya.
“Gaya hidup atau pola hidup anggota oknum kepolisian yang begitu hedonisme pada akhirnya menimbulkan dampak negatif di mata masyarakat. Ini semua menjadi pertimbangan-pertimbangan rasional yang perlu di lakukan sehingga revisi ini kalau perlu secara sporadis /akselarasi dilakukan,” ucap ART menambahkan.
Selain itu, ia juga menyinggung betapa besar dampak dari kasus Duren Tiga, yakni dugaan pembunuhan berencana terhadap almarhum Brigadir J, yang tersangka utamanya adalah Irjen Ferdy Sambo, eks Kadiv Propam Polri.
Bagi ART, kasus ini adalah pukulan telak bagi penegak hukum di Indonesia dan utamanya Korps Bhayangkara.
“Saran saya polisi kembali ke barak, artinya kembali menyatu ke TNI, karena saya melihat trend perilaku oknum Polri ini sudah sangat luar biasa begitu hedonisme. Pada akhirnya masyarakat menjadi apriori terhadap polisi, dan saya melihat institusi ini seperti superbody yang susah tersentuh, banyak yang ditutupi-tutupi,” kata dia.
Terakhir, ART menegaskan bahwa reformasi Polri sebaiknya disudahi, karena bukan berdampak baik, justru menimbulkan keburukan.***
Disadur dari www.reqnews.com
https://www.reqnews.com/read/news/53617/polri-dinilai-terlalu-hedonis-senator-satukan-kembali-ke-tni








