EQUATOR-TV, REQnews – Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) PBB membuka data perbudakan masa kini yang masih terjadi dan korbannya mencapai nyaris 50 juta orang di seluruh dunia.
Kasus-kasus perbudakan juga melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2016 hingga saat ini, jumlah orang yang terkerangkeng perbudakan dengan model kerja paksa mencapai 27,6 juta orang.
Sementara perbudakan dengan model pernikahan paksa, yang korban termasuk anak-anak, mencapai angka 22 juta orang.
ILO dalam pernyataan terbarunya, seperti dikutip Senin 12 September 2022 mengatakan, perbudakan dan kemiskinan ekstrem ini disebabkan konflik bersenjata, perubahan iklim sampai dampak akibat pandemi Covid-19.
Perbudakan model kerja paksa ditemukan paling banyak di negara-negara yang justru masyarakatnya berpenghasilan menengah ke atas bahkan tinggi. Kelompok paling rentan adalah para migran.
Salah satu negara yang termasuk menyumbang perbudakan tersebut adalah Qatar. Negara ini yang telah menghadapi tuduhan pelanggaran hak-hak buruh yang meluas terkait dengan para migran yang bekerja di sana menjelang Piala Dunia FIFA yang akan dimulai pada November.
Kemudian, di Cina, ILO juga mengungkap kekhawatirannya akan kerja paksa yang terus terjadi, apalagi diperkuat dengan laporan komisaris HAM PBB akhir Agustus 2022 lalu.
Laporan badan PBB itu menyatakan pelanggaran hak asasi manusia yang serius telah dilakukan di Cina. Penahanan masyarakat Uighur dan Muslim lainnya di Xinjiang dapat merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan, meskipun pemerintah Cina membantahnya dengan keras.***
Disadur dari www.reqnews.com










