EQUATOR-TV, TARAKAN Rapat Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Produksi Pekebun digelar oleh Tim TBS Kelapa Sawit Produksi Pekebun, Kalimantan Utara bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi, serta International Institut Of Plantation Managemen dan GLV Agro Services and Consultancy SDN, BHD-Kuala Lumpur, pada Kamis pagi (08/08/2024), di Hotel Padmaloka, Tarakan.
Rapat kali ini, disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara-Heri Rudiyono, serta diikuti berbagai perwakilan perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Utara, dan dihadiri tim konsultan kelapa sawit dari Kuala Lumpur, Ketua Umum dan Dewan Pakar UMKM RI, Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Kaltara, serta instansi terkait lainnya.
Dalam wawancaranya dengan tim liputan, Heri mengatakan, “Rapat ini dihadiri tamu dari Malaysia dan sesuai dengan expert-nya terutama persawitan. Yang menjadi kendala dari para pekebun kelapa sawit adalah produksi yang masih kurang optimum, karena pupuknya yang kurang, para pekebun punya uang untuk beli pupuk itu, mereka sayang uangnya, padahal tidak boleh seperti itu, makanya harus ada substitusi, dengan adanya rumah pupuk organik dari pemerintah provinsi, sehingga dari segi ekonomi juga sedang memastikan harga-harga tertinggi buah sawit itu wajar, walau tidak seperti harga pabrik karena ada kendala hal lain. Tapi di lapangan saya melihat pekebun terlihat senang dengan harga sekarang. Dan kami tetap mendidik para pekebun supaya dibekali ilmu dan kerjasama dengan rekan yang dari Malaysia ini. Kedepannya juga mengarah untuk adanya sekolah jurusan sawit di Kaltara, makanya kami mengundang PTN juga pada hari ini agar bisa membuka jurusan baru kelapa sawit untuk kedepannya”, ujar Heri.
Selain itu, soal peluang kelapa sawit di Kaltara, perwakilan GLV Agro Service and Consultancy SDN.BHD, sebagai konsultan kelapa sawit dari Kuala Lumpur-Dato’ Hj.Zein Isma Bin Ismail mengatakan, “Kondisi tanah Kaltara sesuai bila menjadi pusat persawitan, bukan saja untuk Kaltara tapi untuk Indonesia. Perlu ada pendekatan dan tujuan yang tepat, bagaimana membangun sawit dengan benar. Dan tentu saja mesti ada target pada dinas pertanian. 50 tahun lagi menargetkan 25 ton sawit buah dan 23 persen rendamannya”, ujar Datu’ Isma.
Tak jauh berbeda dengan perwakilan dari UMKM RI maupun GAPKI Kaltara, saat dimintai keteranganya tentang langkah yang akan diambil oleh para pelaku usaha, pasca pertemuan kali ini. “Bagi GAPKI Kaltara, apa yang menjadi problem dalam dunia persawitan kita, kini telah terjawab. Tentang susahnya tenaga kerja, rendahnya produktivitas sawit kita saat ini. Perlu dikaji agar bisa menghasilkan produktivas sawit semakin maksimal. Dan datangnya para pakar-pakar ini, sangat bermanfaat bagi kita. Dan berharap semoga membantu dunia perkelapasawitan di Kaltara”, ujar Ketua GAPKI Kaltara-Hendra Lintung.
“Kami sebagai pelaku usaha, merespon baik dari program pak Kadis dan para pakar yang datang dari Malaysia. Langkah ini sudah kami mulai dari 2009, kami sudah melahirkan KUR dan HTR. Dan sekarang masuk untuk pendidikan, tapi masih bertarap nasional. Tapi tetap ditingkatkan untuk masa yang akan datang,” ujar Haji Wahyu Raja-Ketua Umum UMKM RI.
“Dari UMKM programnya, nanti akan mendapingi kelompok tani mandiri yang disampaikan. Diharapkan kerjasama pemerintah swasta dan masyarakat, termasuk program CSR. Petani diharapkan memiliki industri pupuk mandiri. Itu tujuannya, dan Kaltara akan didampingi Dinas Pertanian Provinsi, serta meminta dukungan pihak swasta untuk industri pupuk mandiri, pupuk padat ataupun cair”, imbuh Hendrawan Amirullah-selaku Dewan Pakar UMKM RI.
Kegiatan rapat ini, juga dilanjutkan dengan penandatanganan MOU antara Forum Komunikasi UMKM RI, dengan International Institut Of Plantation Management dan GLV Agro Services And Consultancy, yang isinya tentang pengembangan manajemen pengelolaan kebun kelapa sawit.
Dengan adanya rapat kali ini, diharapkan akan menjadi titik cerah bagi perkembangan kelapa sawit di Kaltara hingga soal wacana pembangunan pabrik minyak makan yang rencananya segera akan dibangun di provinsi ke 34 ini.










