EQUATOR-TV, TARAKAN – Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kota Tarakan dalam upayanya memperkuat komitmen menuju Kota Layak Anak (KLA), salah satunya dengan menggelar Bimbingan Teknis bagi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluraga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tarakan, pada Kamis pagi (31/7/2025), di ruang Imbaya, Kantor Wali Kota Tarakan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk memastikan semua elemen, termasuk LKSA, memahami dan menerapkan prinsip perlindungan anak secara menyeluruh. Hadir sebagai pemateri kali ini Bekti Prastyani selaku Ketua Assosiasi Pendidik Berperspektif Hak Anak), Jakarta.
Lewat bimbingan teknis yang diikuti lebih dari 30 peserta dari berbagai LKSA diantaranya LKSA Roudatul Jannah, Al Marhamah, SEKATA, Putri Melati, Hidayatullah, Berkah Ar-Rahim, Putra Ahmad Dahlan, TAS Kampung Satoe, dan LKSA lainnya yang ada di Tarakan ini, diharapkan mampu memberikan wawasan baru dan solusi bagi para peserta, dalam menerapkan pola pengasuhan anak di LKSA masing-masing.
Usai kegiatan, saat disinggung awak media soal pencapaian KLA bagi Tarakan, Bekti menuturkan optimismenya. Bekti optimisme terhadap peningkatan predikat KLA di Tarakan akan terus menguat. Tarakan yang saat ini menyandang status pratama, dinilai memiliki peluang besar untuk naik level ke madya atau bahkan nindya, berkat kolaborasi dan gerakan masif lintas sektor.
“Saya melihat betapa pergerakannya masif yang terkait dengan diri saya sendiri, mulai dari menyisir rumah ibadah ramah anak, perkumpulan organisasi wanita, hingga para ayah yang nantinya akan mendapatkan parenting,” ujar Bekti.
“Kenapa demikian ? Karena akar dari semua kasus perilaku anak, sekitar 60% adalah karena anak-anak yang _fatherless_, kehilangan sosok ayah, sehingga ada sebuah pergerakan juga yang dilakukan oleh DP3AP2KB memberikan parenting kepada teman-teman, para ayah nanti akan hadir di hari Jumat untuk memberikan pemahaman pengasuhan, bahwa pengasuhan sesungguhnyaa ada pada tanggungjawab ayah,” tegas Bekti.
Tak hanya keluarga, ekosistem pendidikan juga menjadi fokus. Standarisasi Sekolah Ramah Anak (SRA) tengah digencarkan di beberapa sekolah yang aktif bermitra dengan organisasi penggerak hak anak. “Ada beberapa sekolah juga yang nanti akan kami dampingi. Salah satunya juga kita saat ini juga sedang mengerjakan standarisasi Sekolah Ramah Anak (SRA). Jadi ada beberapa sekolah yang diajukan standarisasi dan itu aktif juga bersama kami,” imbuhnya. Hal ini mengartikan bahwa komitmen Kota Tarakan ini sangat nyata, untuk mendapatkan level predikat KLS naik, dari Pratama ke Madya, ataupun Nindya.
“KLA itu bukan berarti zero kasus. Tetapi ada kasus, bagaimana pencegahan, bagaimana penanganan secara tepat, cepat, komprehensif dan terintegrasi, “tambahnya. Sebagai tokoh yang telah mengikuti perkembangan Tarakan sejak 2022, Bekti menyatakan bahwa progres Kota Tarakan dalam hal perlindungan anak tergolong luar biasa. “Saya mengikuti sejak tahun 2022 ada disini, progresnya luar biasa di semua OPD,” tutupnya.(RK)










