EQUATOR-TV, TANA TIDUNG – Program cetak sawah saat ini telah mulai banyak diusulkan oleh beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Utara (Kaltara), guna mendukung program prioritas yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat melalui Menteri Pertanian, yakni cetak sawah.
Untuk Kabupaten Tana Tidung (KTT) sendiri, saat ini belum melakukan pengusulan cetak sawah, dikarenakan masih fokus pada pemanfaatan lahan-lahan yang telah ada.
Pemerintah Kabupaten Tana Tidung melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) hingga kini terus berupaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan fokus pada kegiatan optimalisasi lahan sawah seluas 300 Hektar, dengan
melakukan kolaborasi bersama TNI.
Sebagaimana disampaikan Kepala DPPP Tana Tidung, Rudi dalam wawancara pada Senin (3/11/2025).
“Saat ini kita masih fokus di kegiatan optimalisasi lahan sawah yang berkolaborasi dengan teman-teman TNI dan luasannya ada sekitar 300 hektare. Makanya kami sekarang lagi memaksimalkan luas tambah tanamnya,” ujarnya.
“Untuk cetak sawah, KTT belum mengusulkan karena sebagian wilayahnya juga banyak kawasan hutan, kemudian kondisi kelompok-kelompok taninya memang banyak SDM-nya yang sudah tua,” jelasnya.
DPPP saat ini masih fokus pada maksimalisasi lahan yang sudah ada, agar produktivitasnya meningkat.
Melalui program optimalisasi, indeks pertanaman (IP) yang sebelumnya satu kali per tahun ditargetkan dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali musim tanam per tahun.
“Jadi sementara ini lahan yang sudah ada kita maksimalkan luas tambah tanamnya, luas panennya, indeks pertanamannya dari indeks satu per tahun bisa dinaikkan ke indeks dua atau tiga per tahun,” imbuhnya.
Berbeda dengan beberapa daerah lain di Kaltara seperti Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan, yang sudah mengajukan program cetak sawah, untuk Kabupaten Tana Tidung sendiri masih menunggu hasil pelaksanaan program tersebut sebelum melakukan pemetaan potensi lahan baru.
Selain itu, DPPP Tana Tidung juga telah membentuk satu Brigade Pangan yang dilengkapi alat dan sarana pertanian dari Kementerian Pertanian.
“Kebetulan juga di Tana Tidung sudah dibentuk satu brigade pangan. Jadi nanti brigade pangan ini yang akan mentransfer teknologi pertanian modern ke kelompok-kelompok tani yang lain,” ungkapnya.
Brigade Pangan nantinya akan berfungsi untuk mengimplementasikan teknologi pertanian modern, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama penyakit, hingga perbaikan sistem irigasi, yang diharapkan dapat peningkatan produktivitas sawah di Tana Tidung secara significant.
Hingga saat ini, di Kabupaten Tana Tidung total luasan sawah mencapai sekitar 450 Hektare. “Kalau sawah di KTT itu ada dua model, sawah lahan kering dan sawah irigasi. Totalnya sekitar 450 hektare,” katanya.
Sawah lahan kering biasanya memiliki indeks panen satu kali per tahun karena disesuaikan dengan kondisi iklim dan serangan hama.
“Kalau sawah lahan kering itu IP-nya satu, karena masyarakat menyesuaikan dengan kondisi hama dan musim. Biasanya tanam di bulan 9 atau 10 dan panen di bulan 2 atau 3, itu masa yang aman,” jelasnya.
Sementara untuk sawah irigasi, dengan dukungan teknologi dari brigade pangan, indeks panennya ditargetkan bisa meningkat menjadi dua hingga tiga kali per tahun.
“Dengan adanya brigade pangan, sawah irigasi ini diharapkan indeks panennya bisa dua sampai tiga kali. Harapannya, sekali panen bisa menghasilkan di atas empat ton gabah kering giling per hektare,” ujarnya.
Dan untuk sawah lahan kering sendiri, produksinya diharapkan dapat mencapai lebih dari 500 kilogram per hektare.
“Pemerintah juga sudah memfasilitasi pemasarannya, baik ke Bulog untuk beras dan jagung, maupun untuk program MBG atau Gerakan Pangan Murah. Jadi memang banyak opsi yang bisa dimanfaatkan petani,” tutupnya.(RK)










