EQUATOR-TV, TARAKAN – Alarm bahaya narkoba di Kota Tarakan kian nyaring. Peredaran yang tak lagi mengenal batas wilayah, bahkan disebut telah menembus gang-gang kecil permukiman, memantik kekhawatiran serius dari BNNK (Badan Narkotika Nasional Kota) Tarakan, masyarakat hingga relawan di tingkat akar rumput.
Kepala BNNK Tarakan, Evon Meternik, tak menampik kompleksitas persoalan yang dihadapi. Di program Talkshow-Equator TV yang dipandu Rina Chandra pada Senin pagi (13/4/2026), Evon juga mengomentari soal peran Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) yang kerap menjadi titik krusial dalam rantai peredaran narkoba.
“Sebenarnya begini, kalau kita bicara Lapas, Lapas itu adalah hilir. Artinya, mereka yang sudah masuk kesana adalah orang-orang yang sudah terproses secara hukum. Persoalan pengendalian dari dalam Lapas memang menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua, bukan hanya BNNK tapi juga pihak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,” tegasnya.
Fakta di lapangan pun tak bisa diabaikan. Masih ditemukan berbagai modus yang digunakan narapidana untuk tetap berkomunikasi dengan jaringan di luar, menjaga roda bisnis haram itu terus berputar.
“Inilah yang sedang kita tekan. Kami di BNN Kota Tarakan mendorong pihak Lapas untuk melakukan razia rutin dengan melibatkan APH (Aparat Penegak Hukum) agar transfaran dan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan alat komunikasi ilegal di dalam.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa teknologi informasi yang semakin maju juga dimanfaatkan oleh mereka untuk tetap menjalankan bisnis haramnya meski dari balik jeruji besi,” terang Evon.
Namun, persoalan narkoba di Tarakan bukan hanya soal penindakan di hilir. Di tingkat masyarakat, tekanan justru terasa lebih nyata. Ketua IBM (Intervensi Berbasis Masyarakat) Sehati Kelurahan Sebengkok, Muhammad Raupung, mengungkap kondisi yang memprihatinkan.
“Kami di tingkat kelurahan melalui IBM melihat bahwa pencegahan itu harus dimulai dari lingkungan terkecil. Masalahnya sekarang, peredaran narkoba ini sudah sangat masif dan masuk ke gang-gang kecil. Kami sebagai relawan seringkali merasa dilematis. Di satu sisi kita ingin melapor, di sisi lain ada rasa kekhawatiran terhadap keselamatan anggota kami di lapangan,” keluhnya.
Meski dihantui rasa takut, upaya pencegahan tetap dilakukan tanpa henti. Edukasi door to door hingga pendekatan kepada generasi muda terus digencarkan.
“Namun, kami tetap konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat. Kami mendatangi rumah ke rumah, merangkul para pemuda agar tidak terjerumus,” imbuh Raupung.
Di balik kerja keras itu, muncul kritik tajam terhadap pola penegakan hukum yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.
“Implementasi pemberantasan ini menurut saya jangan hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Siapa yang gagal? Saya rasa ini tanggung jawab kolektif. Jangan biarkan kami di tingkat bawah bekerja sendiri tanpa perlindungan dan dukungan penuh dari aparat penegak hukum yang lebih tinggi. Kita butuh sinergi yang nyata, bukan sekadar seremonial di atas kertas saja,” harapnya.
Nada serupa juga disampaikan Ketua IBM Macan Kelurahan Kampung Enam, Tarobi. Ia menegaskan pentingnya tindakan tegas tanpa kompromi demi menjaga kepercayaan masyarakat.
“Harapan kami sederhana saja, yaitu adanya tindakan tegas tanpa pandang bulu. Kami di Kampung Enam terus berupaya menjaga wilayah kami agar tetap bersih. Kendala utamanya adalah keterbatasan wewenang kami. Kami hanya bisa membina dan melaporkan, tapi eksekusi ada di tangan aparat, “ungkap Tarobi.
Ia pun menekankan, kecepatan respons aparat menjadi kunci dalam menjaga semangat masyarakat untuk terus melawan narkoba.
“Kami ingin melihat ada bukti nyata bahwa laporan dari masyarakat itu ditindaklanjuti dengan cepat, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap program pemberantasan narkoba ini tetap terjaga,” tutupnya.(RK)









