EQUATOR-TV, PENAJAM PASER UTARA – Petani kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) kini menghadapi tekanan ganda. Selain dibayangi serangan hama Ganoderma dan Kumbang Tanduk yang mengancam produktivitas kebun, petani juga terpukul oleh anjloknya harga tandan buah segar (TBS) yang sempat turun hingga Rp1.200 per kilogram.
Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam Seminar dan Workshop “Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit” yang digelar DPP APKASINDO di Hotel Aqila, Penajam Paser Utara (PPU), pada 29-31 Mei 2026.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung, menyebut Ganoderma sebagai “pembunuh berdarah dingin” bagi tanaman sawit karena mampu mematikan pohon secara perlahan tanpa gejala yang mudah dikenali petani.
Di sisi lain, Gulat juga membahas soal merosotnya harga TBS yang dinilai dipicu tidak optimalnya mekanisme tender CPO di KPBN, sehingga petani kehilangan acuan harga yang adil.
Karenanya, APKASINDO telah melakukan Advokasi dan mengambil sikap terkait permasalahan ini.
“Kita telah mendesak Kementrian Pertanian termasuk Wakil Menteri Pertanian, untuk menyepakati point-point perlindungan petani, salah satunya yaitu mengembalikan harga TBS ke tingkat wajar. Negara harus hadir memperbaiki tata niaga sawit dan melindungi petani,” ujarnya.
“Apkasindo juga mendukung penuh langkah pemerintah untuk mengawasi PKS secara ketat. Kalau ada korporasi yang sengaja membeli TBS diluar batas kewajaran dengan alasan tangki timbun penuh. Kita kita dorong Pemerintah untuk mengambil tindakan tegas seperti pembentukan Satgas, hingga pencabutan izin usaha PKS tersebut,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua DPW APKASINDO Kaltim, Ir. Betman Siahaan, yang juga menyampaikan komentarnya soal harga TBS, dimana Kalimantan Timur menjadi salah satu daerah dengan penurunan harga TBS paling tajam di Indonesia.
“Dari kisaran Rp3.000 per kilogram, harga sempat merosot hingga Rp1.200 per kilogram, membuat banyak petani menunda panen karena hasil yang diperoleh hampir tidak mampu menutupi biaya operasional,” ungkapnya.
“Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser juga tercatat sebagai wilayah yang paling terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk”, imbuhnya.
Karena itu, melalui workshop ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani mengenai upaya pencegahan dan pengendalian hama maupun penyakit tanaman sawit.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dalam sambutan Bupati PPU yang dibacakan saat pembukaan acara, menyebutkan bahwa sektor kelapa sawit memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian daerah, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kegiatan workshop ini memiliki nilai strategis dalam mendukung penguatan sumber daya manusia di sektor perkebunan, khususnya bagi petani kelapa sawit guna mewujudkan pengelolaan perkebunan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Bupati.
Pihak Pemkab PPU juga berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas petani, kelembagaan perkebunan, serta mendorong praktik budidaya sawit yang produktif dan berkelanjutan.
Melalui workshop ini, APKASINDO dan pemerintah berharap petani tak hanya mampu menghadapi ancaman Ganoderma dan kumbang tanduk, tetapi juga semakin memahami dinamika tata niaga sawit nasional agar keberlanjutan perkebunan rakyat tetap terjaga di tengah berbagai tantangan yang ada.(RK)










