EQUATOR-TV, BULUNGAN – Galeri Batik Tiga Ale “Leto” Disabilitas, hadir sebagai bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi.
Usaha ini tumbuh atas semangat dan ketekunan dari para penyandang disabilitas yang ada di Kabupaten Bulungan dan sebagai wadah kreativitas, sekaligus menjadi pusat pembinaan keterampilan membatik, bagi mereka dari kalangan berkebutuhan khusus tersebut.
Berawal dari pelatihan yang difasilitasi oleh Dinas Sosial Kabupaten Bulungan, para pengrajin disabilitas mulai mengenal dasar-dasar membatik, seperti mengukir pola, merebus kain, hingga proses pewarnaan dan penjemuran di bawah sinar matahari.
Dalam wawancaranya, Anastasia Oni Kein, Ketua HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) Kabupaten Bulungan, menceritakan bagaimana besarnya tantangan yang mereka hadapi dalam proses pembuatan batik tersebut, mulai dari keterbatasan fisik yang dimiliki, hingga soal kendala cuaca yang seringkali terjadi.
“Awalnya kami membuat batik itu sulit, apalagi kami daksa, jadi belum cara mengukurnya, cara merebusnya, cara jemurnya, adalah suka-dukanya”, ungkapnya pada Selasa (11/08/2026).
“Kalau pas kendalanya itu hujan, kita stop dulu, karena batik ini tidak bisa langsung di water glass, harus di bawah matahari panas-panas, jadi cepat kering, cepat kita rebus, karena kalau kita biarkan, lilinya nanti pecah-pecah”, sambungnya.
Ia mengaku saat berproses sempat menimbulkan rasa kecewa, namun seiring waktu dan ketekunan berlatih, kualitas batik mereka kian membaik dan menarik.
“Dulu, hasil awalnya kita buat itu kan jelek pokoknya, agak kecewa sedikit ya, nah saat buat lagi dan kita lihat, wow cantik! Apalagi saat dibeli sama pemerintah, kita jadi tambah semangat membuatnya”, ucapnya bangga.
Ia juga berterima kasih kepada Dinas Sosial dan pihak Yayasan Hasan Faqih yang telah mendukungnya dari awal hingga saat ini.
“Buat Dinas Sosial, terima kasih banyak sudah support kami, sudah memberi kami alat-alat dan semangat. Juga buat yayasan, terima kasih banyak sudah memperkenalkan batik kepada kami”, ungkapnya.
Ia juga berharap agar bantuan dan pendampingan terus diperluas, tidak hanya dari Dinas Sosial, tetapi juga dari dinas-dinas terkait serta lembaga lainnya, agar kualitas batik mereka semakin baik dan usaha ini dapat terus berkembang.
“Harapan kami, mohon instansi-instansi lain memberi bantuan buat kami, seperti peralatan, perlengkapan dan modal, agar batik kami lebih bagus dan lebih baik”, ucapnya.
Sementara itu, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Bulungan, Kepala Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Karuniati Tingai, S.E, juga menjelaskan bahwa pelatihan tersebut sebagai salah satu bentuk pemberdayaan sosial, yang bukan sekedar kewajiban formal semata, melainkan upaya penguatan komunitas disabilitas, serta langkah awal untuk membangun kemandirian dan masa depan yang lebih baik bagi mereka.
“Memang masih pelatihan dasar dan pengenalan akan batik kepada mereka, dan Puji Tuhan, itu tidak sampai di situ saja, mereka mau bergerak”, ungkapnya.
“Dan waktu pertama kami sampaikan, teman-teman ini bukan sekedar pelatihan yang setelah ini nanti selesai atau Dinas Sosial tidak saja melatih untuk mengugurkan tanggung jawab, tetapi kami berharap ini akan berkembang”, tambahnya.
Meski hasil karya mereka masih belum sempurna sepenuhnya, pihaknya tetap bersyukur melihat kemajuan yang telah dicapai.
“Dan bersyukur mereka bisa berkembang, yang sampai saat ini kita bisa melihat hasil mereka mungkin masih jauh dari sempurna”, ucapnya.
“Harapan kami kedepan, dengan dukungan pemerintah dan swasta, bahkan lembaga, barangkali bisa menyupport mereka supaya mereka bisa berkembang, dan mandiri,” tutupnya.
Kedepannya, dukungan dari pemerintah, swasta, dan berbagai lembaga diharapkan semakin kuat agar para pengrajin disabilitas tersebut mampu terus berkarya hingga benar-benar mandiri secara ekonomi.(NA)









