EQUATOR-TV, BULUNGAN – Gelombang kenaikan harga bahan pokok yang terus terjadi belakangan, mulai menekan para pelaku usaha kecil. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil, para pedagang kecil dihadapkan pada pilihan sulit, antara menaikkan harga jual atau memangkas keuntungan agar pelanggan bertahan.
Kondisi tersebut juga dirasakan langsung para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Salah satunya Biantoro, pedagang gorengan yang mengaku keuntungan usahanya terus menipis akibat harga bahan baku dan perlengkapan dagang yang terus merangkak naik.
Meski biaya produksi semakin membengkak, Biantoro mengaku tidak berani menaikkan harga jual gorengannya yang selama ini dijual dengan harga tetap.
“Dari dulu cuma lima ribu dapat empat biji itu aja. Mau dinaikkan dua ribu, nanti takutnya malah tidak laku,” ucapnya saat ditemui Equator TV pada Sabtu (16/5/2026).
Tak hanya harga bahan makanan yang mengalami kenaikan, ia juga mengeluhkan mahalnya harga perlengkapan pendukung usaha seperti plastik kemasan yang naik drastis dalam beberapa waktu terakhir.
“Kemarin itu plastik yang harganya 100 persen naik, seperti plastik untuk es ini yang harganya 33 ribu satu ikat. Ini kemarin naik bertahap sampai tiga kali lipat. Yang pertama naik jadi 10 ribu saja, kedua naik lagi jadi 20 ribu, terus naik lagi sampai 33 ribu, jadi kenaikannya sampai 100 persen,” keluhnya.
Menurutnya, omzet penjualan memang masih tetap ada, namun keuntungan bersih yang diperoleh jauh menurun dibanding sebelumnya.
“Kalau menurut saya, yah biarlah harga bahan naik, tapi kita cuma bisa bertahan. Dulu saya dapat untung sekitar 100 ribu, sekarang keuntungannya diperkecil tinggal 75 ribu atau bahkan cuma 50 ribu,” ungkapnya.
Biantoro menyebut sebenarnya para pedagang bisa saja menaikkan harga jual. Namun, risiko kehilangan pelanggan membuat mereka memilih bertahan dengan harga lama meski keuntungan terus tergerus.
“Mau gimana juga, sebenarnya kita bisa saja menaikkan harga, tapi yah dampaknya malah kena ke diri kita sendiri. Iya kalau nanti masih laku, kalau tidak gimana?,” tambahnya.
Dampak paling terasa dari kenaikan harga bahan pokok saat ini adalah menyusutnya pendapatan bersih yang diterima setiap hari.
Di tengah kondisi tersebut, ia mengaku hanya bisa mengikuti situasi pasar dan terus berusaha bertahan menjalankan usahanya.
“Kita tidak bisa komentar apa-apa, cuma bisa ngikut aja. Soalnya disini kalau sudah naik harganya, nggak mungkin bisa turun lagi. Contohnya sosis aja dulu awal-awal disini cuma 8 ribu, terus naik jadi 10 ribu, naik lagi jadi 12 ribu, yah kita cuma bisa ngikut saja,” pungkasnya.
Kondisi ini tentunya menjadi gambaran bagi pemerintah tentang potret nyata, beratnya tekanan ekonomi yang kini dihadapi pelaku UMKM kuliner.
Di tengah lonjakan harga kebutuhan dan perlengkapan usaha, mereka dipaksa mencari cara agar usaha tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.(NA)









