EQUATOR TV, MALINAU – Masa kampanye Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara, tak lama lagi akan segera usai. Riuh rendah dan suasana perpolitikan di Kaltara kian memanas. Terlebih sejak banyaknya berita miring terkait ketidakharmonisan antara salah satu pasangan calon (Paslon) Nomer 02 -Zainal Paliwang dan Paslon Nomer 03 Yansen TP, sebagai pasangan incumbent kala masih sama-sama menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara periode 2019-2024.
Situasi ini, membuat Tim Liputan Equator TV, tertarik untuk mengulik lebih jauh bagaimana latar belakang birokrasi salah satu paslon Pilgub Kaltara kali ini, dalam masa kepemimpinan sebagai kepala daerah saat itu. Dan secara eksklusif kami berkesempatan mewawancarai secara langsung Wakil Bupati Malinau, Taupan Amrullah, Spd, M.Si, dikediamannya pada Rabu siang (23/10/2024). Dimana Taupan kala itu duduk sebagai Wakil Bupati Malinau 2 periode, yakni 2011-2016 dan 2016-2021 mendampingi Bupati Malinau, Yansen TP.
Saat disinggung soal hubungan antara Bupati dan Wakil Bupati yang tidak begitu harmonis pada saat itu, Taupan menjawabnya apa adanya. “Kalau secara personal nggak ya, ya memang di bidang pemerintahan misalnya penentuan pejabat-pejabat, ini apakah polanya seperti itu saya kurang paham, itu sudah disusun oleh tim seleksi dan tinggal finishing dan kita gak punya waktu untuk membaca siapa-siapa aja yang promosi”, ujarnya. Kemudian saat ditanya soal pembagian tupoksi kerja, Taupan menjelaskan soal tupoksi kerja sebagai seorang Wakil Bupati. “Tupoksi Wakil adalah pengawasan, maka dia harus fokus pada bidang pengawasan dan bisa memaksimalkan kerjasama. Saya sangat menyadari bahwa wakil itu tidak punya kewenangan, yang bersifat kewenangan dan kebijakan itu hanya ada pada pimpinan daerah, sehingga kalau kita memahami posisi itu sebagai wakil, saya kira tidak akan ada masalah dengan posisi pimpinan”, jelas Taupan.
Saat dikejar, apakah wakil tidak merasa “ditinggalkan” dalam hal ini ? Taupan mengisahkan kondisi kala itu. “Kalau merasa ditinggalkan, sepertinya ya tanda kutip yah, kalau ditinggalkan secara personal kayaknya nggak waktu itu. Memang dalam kesempatan-kesempatan yang bersifat resmi pemerintahan, kalau beliau berhalangan selalu dilimpahkan ke saya, tapi itu tadi dalam hal kebijakan penentuan pejabat-pejabat daerah, itu sudah disusun jauh-jauh hari, kemudian kita rapat itu sudah finalisasi, sehingga kita tidak punya waktu melihat siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan promosi, padahal fungsi wakil tadi kan pengawasan, harusnya diberi kesempatan agak lamalah untuk mempelajari itu, paling tidak seminggu, ” ungkapnya. Jadi sejatinya Taupan pada masa itu merasa tidak terlalu banyak terlibat.
Lebih jauh lagi, saat disinggung soal tren tidak harmonisnya hubungan antara kepala daerah dan wakil dibeberapa kota lainnya di Indonesia, Taupan menegaskan bahwa pada dasarnya bila wakil menyadari fungsinya sebagai pengawasan, tidak dalam posisi kebijakan apalagi kebijakan anggaran. “Tidak akan menjadi masalah dengan pasangan kita. Tetapi tak kala posisi wakil sudah menuntut lebih dan mendapatkan kebijakan yang “sama” dengan kepala daerahnya, inilah yang akan menjadi masalah”, ujarnya.
“Sempat ada beberapa kali yang tidak pas, pada saat menentukan posisi jabatan-jabatan, dan saya tidak hadir dalam pelantikan karena tidak sesuai dengan hasil rapat, berubahnya belakangan. Dan bentuk protes saya terhadap pimpinan, saya tidak hadir dalam pelantikan tersebut”, imbuhnya.
Dan sebagai penutup sesi wawancara kami, Taupan sempat menyampaikan pesan khususnya pada Yansen TP selaku Calon Gubernur Kaltara. “Saya sangat paham beliau adalah seorang birokrat murni, bahwa beliau 8 tahun menjadi Sekda, 2 tahun menjadi Staff Ahli Gubernur, kemudian 10 tahun menjadi Bupati, kemudian 3 tahun lebih menjadi Wakil Gubernur, ya saya kira beliau secara kompetensi birokratnya memang memenuhi syarat. Cuman kan kita harus pahami, bahwa masyarakat ini kan tidak paham-paham amat dengan yang birokrasi itu, masyarakat ini inginnya pimpinan itu mudah ditemui, tidak terlalu protokoler, sehingga mereka merasa inilah pemimpin yang kami pilih. Jadi harapannya, tentu beliau dalam menyampaikan program-programnya, ya sesuai dengan visi misi. Dan harapannya kedepannya beliau kebawahnya ya seperti pada saat berpasangan dengan saya, semua tim kita arahkan untuk tidak melakukan tindakan yang seperti black campaign, tidak menyerang, biarkanlah orang menyerang tapi kita tidak tanggapi. Dan itulah yang terjadi pada saat itu, pada saat pilkada periode pertama 2011-2016 dan periode 2016-2021, kita tidak melakukan counter attact atau serangan balik. Harapannya, beliau bisalah melakukan itu pada tim pemenangnya”, tutup Taupan dengan nada bijak.










