EQUATOR-TV, TARAKAN – Batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana bagi para lansia untuk berkarya dan tetap produktif. Hal inilah yang diusung oleh Panitia Penyelenggara, yang merupakan kolaborasi bersama antara AYS Indonesia dengan BEM Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Borneo, Tarakan dengan mengundang para Lansia untuk mendapatkan pelatihan membatik, sekaligus pengecekan kesehatan.
Dalam kegiatan Batik Nusantara bertemakan “Lansia Berkarya, Budaya Terjaga, Langkah Kami Menciptakan Bumi Lestari”, pelatihan yang difokuskan bagi para Lansia ini digelar pada Sabtu siang (15/3/25), bertempat di Panti Almarhamah Indonesia, Jl.Yos Sudarso Gg.Wakaf, Jembatan Besi, RT.11/RW.02, Lingkas Ujung, Tarakan.
Sebanyak 20 lansia dengan penuh semangat mengikuti pelatihan GRATIS membatik, yang didampingi oleh DPC GEKRAFS Tarakan, serta para pemuda pemudi AYS Indonesia, yang dikomandani oleh Abrar Putra Siregar, selaku Founder AYS Indonesia, sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya dan kesejahteraan para lansia. Para Lansia yang datang tak hanya mendapatkan pelatihan membatik, namun juga dapat melakukan pengecekan kesehatan secara GRATIS, bersama team kesehatan BEM Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Borneo, Tarakan.
Melalui kegiatan membatik ini, diharapkan dapat turut serta menjaga warisan nusantara, selain dapat membantu stimulasi kognitif dan motorik para peserta Lansia, serta menjaga kesehatan mental dan emosionalnya. Bagi para peserta, pengalaman membatik ini menjadi sesuatu yang baru dan menyenangkan. Nuraini (60 tahun), salah seorang lansia peserta kegiatan, mengungkapkan kebahagiannya, “Senang, senang sekali, enak kayak anak kecil, hehe.”, ujarnya diiringi gelak tawa. Saat ditanya bagian mana yang paling ia sukai, dengan antusias ia menjawab, “Mewarnai!”, ujar Nuraini lantang.
Senada dengan itu, Ayudiana, lansia lainnya, juga merasa antusias meski mengakui tantangan dalam belajar membatik. “Senang-senang, menambah pengalaman!,” ujarnya. “Susah membatik, mungkin karena baru pertama kali ya, nanti lama-lama bisa kali ya,” tambahnya dengan optimisme.
Tak sekadar kegiatan kreatif, membatik juga menjadi terapi bagi para lansia, merangsang daya ingat, motorik halus, serta memperkuat interaksi sosial. Inisiatif ini pun mendapat apresiasi luas karena tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga memberikan ruang bagi lansia untuk tetap aktif dan berkarya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar dan berkontribusi. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap budaya, panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk menjaga warisan batik serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi semua generasi (AF).










