(oleh : Rina Chandra, Equator-TV)
EQUATOR-TV, TARAKAN – Di balik luasnya wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), tersimpan beragam budaya kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakatnya, termasuk juga soal budaya Dayak Bulusu, yakni salah satu suku dayak yang banyak menyebar di beberapa kota/kabupaten di Kalimantan Utara, terutama di Kabupaten Malinau, KTT dan Bulungan. Dayak Bulusu memiliki beragam tradisi. Dan tradisi ritual kematian salah satunya yang cukup menarik untuk kita telusuri.
Bagi suku ini, tradisi ini bukan sekadar pemakaman semata, melainkan sebuah prosesi panjang yang sarat makna, menggambarkan hubungan spiritual antara manusia, leluhur, dan alam. Salah satu bagian penting dari rangkaian prosesi tersebut adalah Ancaliun, ritual yang memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Fungsinya meliputi permohonan kepada leluhur atau dewa, ungkapan syukur, serta pemeliharaan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Dalam konteks kematian, Ancaliun menjadi simbol penghormatan terakhir yang dijalankan melalui gotong royong dan musik tradisional.
Lesung Ancaliun, alat musik khas berbahan kayu keras seperti ulin, kerap dimainkan dalam upacara adat ini. Ancaliun juga meliputi beberapa tahapan penting seperti persiapan bahan, pelaksanaan upacara, penghormatan kepada leluhur, hingga permohonan berkah, yang memperkuat makna sakral dari setiap langkah dalam ritual kematian Dayak Bulusu.
Sri Tiawati, perempuan keturunan Dayak Bulusu dan Dayak Punan yang dikenal dengan sapaaan “Sukhet” ini, menceritakan tradisi tersebut. Saya diterimanya secara khusus, di sebuah hotel di Tarakan, yang memberikan kesempatan bagi saya untuk menggali lebih dalam darinya, soal tradisi masyarakat Dayak Bulusu ini.
“Sebelum prosesi pemakaman, ada rangkaian upacara adat yang wajib dijalani,” ujar Sukhet mengawali wawancaranya. Ia menjelaskan, proses awal disebut Ancaliun, yakni menumbuk padi bersama-sama sebagai simbol gotong royong dan penghormatan terakhir kepada arwah. Dalam prosesi ini, terdengar lagu-lagu khas yang dinyanyikan dengan irama mistis, sebagaimana terdengar dalam rekaman video yang mereka tampilkan.
Disaat bersamaan dengan saat menumbuk padi, masyarakat juga melakukan prosesi menggantung pisang. Pisang-pisang tersebut dibiarkan masak hingga keesokan harinya dan kemudian diturunkan untuk dimakan bersama dalam suasana penuh kebersamaan. Makna gantung buah pisang dalam ritual kematian adat Dayak Bulusu memang sangat menarik, diantaranya: Simbol transisi: melambangkan transisi antara kehidupan duniawi dan kehidupan setelah kematian. Pengantar arwah: gantung buah pisang diyakini sebagai pengantar arwah ke alam baka atau sebagai tanda bahwa arwah telah meninggalkan dunia fana. Rasa syukur: menjadi simbol rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani oleh arwah yang meninggal. Namun, makna pastinya tentu sangat bergantung pada tradisi dan kepercayaan spesifik masyarakat Dayak Bulusu. Ritual kematian adat Dayak Bulusu yang melibatkan gantung buah pisang menunjukkan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat tersebut.
Setelah prosesi gantung buah pisang, barulah dilanjutkan dengan prosesi Nganyau dimulai — sebuah tradisi kuno yang dahulu kala melibatkan pencarian tumbal kepala manusia sebelum jenazah dikuburkan. “Kalau dulu, tidak boleh langsung dikuburkan sebelum mendapatkan kepala manusia sebagai tumbal. Tapi sekarang, karena kita sudah beragama, cukup menggunakan tengkorak peninggalan eks nenek moyang yang disimpan saja itulah yang menjadi simbol, kita tidak lagi melakukan pembunuhan,” tutur Sukhet.
Rangkaian prosesi selanjutnya adalah Pasak Utob, sebuah tarian yang menandai dimulainya bunyi-bunyian seperti gong dan alat musik tradisional lainnya. Kemudian masyarakat mempersiapkan Imai Temudung, yaitu segala perlengkapan untuk proses penguburan keesokan harinya. Waktu penguburan tidak ditentukan secara pasti, melainkan menyesuaikan dengan kesiapan keluarga, terutama dari segi ekonomi. “Kalau zaman dulu, sebelum mengubur, kita harus panen dulu. Jadi bisa makan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun, tergantung kesiapan. Sekarang sudah lebih baik karena perekonomian mulai berkembang,” jelasnya.
Biaya penyelenggaraan prosesi kematian dalam budaya Dayak Bulusu, juga dikenal sangat besar, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini karena seluruh kebutuhan konsumsi dan perlengkapan adat dipenuhi secara lengkap, seolah menyimbolkan penghormatan terakhir yang “full kaya” terhadap orang yang telah meninggal. Pada malam sebelum penguburan, digelar Selumad—nyanyian yang menggunakan bahasa dewa, hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu yang dianggap memiliki hubungan spiritual dengan alam dan roh leluhur.
Keesokan paginya sekitar pukul 09.00 atau 10.00, digelar Pasak Sapul, yaitu tarian penghormatan terakhir yang dilakukan oleh para penari untuk mengiringi jenazah. Makanan pun disiapkan sebelum peti dimasukkan ke liang kubur. Peti tersebut biasanya dihiasi anyaman Daun Silad yang melambangkan jalan lurus menuju alam baka. “Anyaman itu simbol harapan agar arwah menempuh jalan yang lurus,” tambah Sukhet.
Rangkaian ritual bisa berlangsung hingga empat hari, tergantung adat masing-masing keluarga. Dimulai dari Neti Peti (penyiapan peti), dilanjutkan dengan pembuatan liang kubur, malam Tumudung, hingga hari keempat penguburan dilaksanakan. Setelahnya, dilakukan ritual pembersihan balay adat sebagai simbol penutupan rangkaian upacara.
Menariknya, dalam budaya nenek moyang Dayak Bulusu, proses penguburan bisa memakan waktu hingga satu tahun. Alasannya beragam, mulai dari pencarian konsumsi, perburuan daging, hingga persiapan rumah besar untuk mengubur. “Kalau tidak ada kepala, walau semua bahan sudah lengkap, mayat tidak boleh dikubur. Dulu, harus pergi nganyau dulu untuk mencari kepala, baru bisa menguburkan. Itu hukum adatnya,” pungkas Sukhet, yang tentu membuat saya dan siapapun yang membaca pasti merasa sedikit merinding mendengarnya.
Percakapan ini, menutup sesi wawancara saya dengannya. Meski belum terasa paripurna, namun setidaknya memberikan gambaran singkat soal prosesi kematian Dayak Bulusu. Sebuah prosesi kematian yang bagi mereka bukan hanya soal mengantar orang meninggal ke tempat peristirahatan terakhir, tapi juga tentang menjaga warisan budaya yang telah hidup ratusan tahun. Sebuah warisan yang kini terus dijaga agar tak hilang ditelan zaman. (RK)










