EQUATOR TV, BULUNGAN – Provinsi Kalimantan Utara melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, menggelar rapat koordinasi Survei Investigasi Desain (SID) sebagai bagian dari tahapan perencanaan program cetak sawah tahun 2025, pada Selasa siang (27/05/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga instansi teknis dan perwakilan petani, di Hotel Pangeran Khar, Tanjung Selor, Kaltara.
Rapat ini bertujuan untuk menyepakati desain teknis dan pelaksanaan kegiatan optimasi lahan di wilayah pertanian yang berpotensi, guna mendukung program swasembada pangan nasional. Total luas lahan yang direncanakan untuk dicetak sebagai sawah produktif di Kalimantan Utara mencapai 7.000 hektar, dengan target penyelesaian kegiatan SID pada 15 Juli 2025.
Dalam sambutannya, Ir.Heri Rudiyono, M.Si, selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kaltara, menyebutkan bahwa kegiatan SID ini menjadi bagian penting dari tahap awal pencetakan sawah, bukan program OPLAH umum, melainkan khusus untuk pencetakan lahan baru. “Hari ini seluruh perwakilan OPD dari provinsi maupun kabupaten/kota kami undang lengkap. Ini dalam rangka menyempurnakan dan melengkapi data untuk kegiatan SID cetak sawah tahun 2025. Targetnya rampung pada pertengahan Juli, dan ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor,” tegas Heri.
Rapat SID ini mencakup lima poin krusial:
1. Penentuan Desain Teknis: Merancang sistem irigasi, pemupukan, dan jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.
2. Penetapan Lokasi dan Luasan: Menentukan secara pasti lokasi dan total lahan yang sesuai untuk dicetak sawah.
3. Koordinasi Stakeholder: Menguatkan sinergi antara Dinas Pertanian, PUPR, BWS, BTR, BSIP, penyuluh, dan petani.
4. Penetapan Jadwal dan Anggaran: Menyusun rencana kerja dan penganggaran kegiatan SID secara rinci dan realistis.
5. Pemantauan dan Evaluasi: Menjaga kualitas pelaksanaan kegiatan dan mengevaluasi hasil yang diperoleh di lapangan.
Heri juga menyampaikan bahwa hingga saat ini, tidak ditemukan kendala teknis maupun administratif yang signifikan dalam pelaksanaan survei lapangan. “Secara umum tidak ada kendala karena ini bukan hal baru. Proses survei dan desain sudah pernah dilakukan. Yang membedakan hanya kondisi lapangan cetak sawah yang lebih berat, dengan tegakan hutan ringan hingga berat, sehingga perlu peralatan dan tenaga khusus,” jelas Heri kepada Tim Liputan.
Lebih lanjut, Heri juga memastikan bahwa data-data teknis yang dibutuhkan telah dikumpulkan sesuai waktu yang direncanakan. Jika terdapat hambatan teknis, petugas lapangan diminta segera berkoordinasi.
Pihak yang terlibat dalam rapat SID cetak sawah Kalimantan Utara antara lain:
– Pemerintah Daerah: Dinas Pertanian, Dinas PUPR, (BWS).
– Instansi Teknis: Balai Teknik Rawa (BTR), Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian (BSIP), (BBWS).
– Penyuluh Pertanian dan Petani: Bertugas mengidentifikasi potensi lahan dan memastikan ketercapaian teknis pelaksanaan.
– Lembaga Pendidikan dan Riset: Universitas (seperti UNDIP, UNS) dan Balai Riset dan Inovasi Pertanian (BRIP).
Kegiatan SID ini diharapkan menjadi fondasi yang kuat untuk mendukung program cetak sawah nasional, serta memperluas areal tanam di Kalimantan Utara yang berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional (RT).










