EQUATOR-TV, TARAKAN – Pelabuhan SDF menjadi kembali jadi sorotan, pasalnya sejumlah pedagang kembali memilih untuk berjualan di dermaga meskipun telah ada peraturan yang melarang aktivitas berjualan di area tersebut. Sebelumnya, para pedagang telah dipindahkan ke lorong pejalan kaki, sebagai bagian dari upaya menertibkan area pelabuhan dan meningkatkan kenyamanan bagi penumpang. Namun, situasi tersebut dianggap tidak menguntungkan bagi sejumlah pedagang yang mengandalkan penghasilan mereka dari penjualan harian.
Sebut saja Mamak Rahmat, salah satu pedagang menuturkan bahwa pendapatan di lorong sangat minim. “Ya, alhamdulillah di sini ada, jadi dapat. Kalau di lorong itu kadang 15 ribu, kadang 10 ribu sampai sore. Soalnya, nggak ada singgah belanja disitu, orang pulang saja kan,” ujarnya. Keberadaan pedagang di lorong tidak mampu menarik perhatian pembeli, yang lebih memilih untuk segera pulang ke rumah tanpa berhenti di lorong untuk berbelanja.
Menurut Mamak Rahmat, perbedaan pendapatan antara berjualan di lorong dan dermaga sangat jauh. “Ya, jauhlah,” ujarnya saat ditanya mengenai perbandingan tersebut. “Kadang ada 500ribu, ya alhamdulillahlah, 500ribu ada, kadang 600ribu, ya tergantunglah penumpang. Kalau agak rame, ya lumayan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penumpang yang melintasi dermaga memberikan peluang lebih baik bagi para pedagang untuk meningkatkan penjualan.
Meskipun sudah ada larangan resmi untuk berjualan di dermaga, banyak pedagang yang tetap nekat untuk melakukannya. “Pindahan semua, makanya banyak tutup di sebelah (lorong) itu, nggak buka. Buka juga capek aja, ” keluhnya. Keluhan ini tentunya mencerminkan kekecewaan para pedagang yang merasa sulit bertahan hidup jika harus berjualan di lorong yang sepi pembeli. Kondisi ini menggambarkan dilema yang dihadapi para pedagang. Di satu sisi, mereka ingin mematuhi aturan yang ditetapkan, namun di sisi lain, kebutuhan ekonomi sehari-hari mendorong mereka untuk kembali ke dermaga yang lebih menguntungkan. Keputusan ini sebagian besar diambil karena pendapatan di lorong tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan situasi ini, para pedagang menginginkan pihak pelabuhan tetap menegakkan aturan, namun sambil tetap berupaya memberikan perhatian pada kesejahteraan para pedagang di lapangan. Mereka berharap segera ada solusi yang dapat memenuhi kepentingan kedua belah pihak, sehingga mereka bisa berdagang dengan aman dan nyaman sambil mendapat penghasilan yang layak (RS).










