EQUATOR TV, TANJUNG SELOR-Mengapa topik gambut dan mangrove yang dipilih sebagai bahan diskusi oleh anggota perwakilan guru-guru SMA dan SMK, serta berbagai instansi pemerintahan kali ini ?Menjawab fakta ini, Kepala Kelompok Kerja Edukasi Dan Sosialisasi BRGM RI-Dr.Ir.Suwiginya Utama, MBA dan Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Kaltara-Drs.Teguh Henri Sutanto, M.Pd, menjelaskan pada Tim Liputan Equator TV, saat wawancaranya dalam gelaran _Forum Group Discussion_ (FGD) tentang Gambut Dan Mangrove pada Kamis siang (08/08/2024), di Luminor Hotel, Tanjung Selor-Kalimantan Utara.
“Yang kami lakukan adalah bagaimana mengintegrasikan pembelajaran tentang melindungi mangrove ini, kedalam kurikulum SLTA di sekolah-sekolah di Kalimantan Utara”, ujar Suwiginya.
Pihaknya mencoba berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara, dan memasukkannya ke dalam kurikulum, agar anak-anak belajar tentang bagaimana melindungi mangrove.
Lebih jauh lagi, Suwiginya juga mengatakan bahwa, “Dengan adanya kegiatan membangun gambut dan mangrove di Kalimantan utara ini, rehabilitasi mangrove terdapat 75.000 hektar diantaranya Kaltim-Kaltara dan Sumut-Riau, dimana sudah ada budgetnya, maka dari itu kami menerapkan bagaimana kedepannya anak cucu menjaga dan melestarikan mangrove tersebut”.
Hal senada juga disampaikan
Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kaltara-Teguh Henri Sutanto. “FGD ini akan merumuskan kebijakan yang akan kita lakukan dalam rangka pelaksanaan anak-anak kita, akan menjaga dan melestarikan alam, khususnya mangrove, itu yang harus kita perkuat. Karena memang pelajar itu adalah sebagai vigur masyarakat, yang bisa dicontoh prilakunya, kharakternya, dan mungkin juga wawasannya. Jadi kita memilih SMA/SMK, akan nantinya para SMA/SMK itu bisa memiliki perilaku kharakter yang baik terhadap lingkungannya, dan itu nanti bisa dicontoh adik-adiknya dan masyarakat sekitarnya, ketika dia sudah mendapatkan pendidikan terkait mangrove, dan bahkan upaya mereka sendiri dalam upaya melestarikan mangrove di lingkungan sekitarnya. Itu sebagai agent perubahan, anak-anak SMA/SMK sebagian suri tauladan bagi masyarakat, sebagai percontohan bagi masyarakat bagaimana sih budidaya mangrove yang benar, melestarikan mangrove yang benar, itu melalui anak-anak SMA/SMK nantinya, sehingga kelestarian mangrove Kalimantan Utara tetap terjaga sampai dengan anak cucu kita. Karena mangrove merupakan ekosistem lingkungan yang berpengaruh sangat besar pada kehidupan, terutama masalah emisi karbon. Sehingga kontribusi mangrove terhadap emisi karbon itu sangat luar biasa dan pengaruhnya itu harus kita jaga”, ujarnya.
“Dan yang kedua adalah ekosistem hayati di dalam lingkungan alam sekitar, itu mangrove memiliki peran yang sangat luar biasa, terutama dalam perikanan dan kelautan, terutama untuk ekosistem kepiting, ikan, udang, itu sangat luar biasa. Sehingga nantinya dengan adanya mangrove, masyarakat bisa menjadi sejahtera disamping alam yang terjaga, meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, imbuhnya.
Dalam FGD ini disepakati beberapa rekomendasi kebijakan terkait mangrove, yang pertama yaitu, penyusunan satuan pendidikan dengan mengembangkan tema mangrove. Yang kedua, perlu pendampingan dari pihak Badan Restorasi Gambut RI, untuk pembuatan modul/bahan ajar tema mangrove. Ketiga, perlu implementasi nyata penanaman gambut untuk pengembangan bibit, penanaman dan pelestarian Gambut RI.
Harapannya, bahwa dengan adanya penanaman gambut dan mangrove di Kaltara ini, nantinya akan mampu menjaga dan melestarikannya, karena mangrove sangat berpengaruh terhadap ekosistem ekonomi yang secara luas.










