EQUATOR TV, TARAKAN Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2024, Pemerintah Kota Tarakan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan gelar aksi penanaman pohon mangrove di kawasan pesisir pantai Lantamal XIII Tarakan, Mamburungan pada Minggu siang (20/10/2024).
Kegiatan yang dibuka oleh PJ Walikota Tarakan-Dr.Bustan, SE, M.Si yang dalam hal ini diwakili oleh Sekda Kota Tarakan, melalui pidato sambutan yang dibacakan, sekaligus menandai resmi dibukanya giat lingkungan siang ini.
“Tarakan memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana. Oleh karenanya kolaborasi dinilai sangatlah penting, antara pemerintah, komunitas dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga ekosistem ini. Dengan demikian, kita tidak hanya melindungi diri kita sendiri, namun juga ekosistem yang ada. Saya mengapresiasi kegiatan yang digagas BPBD dan para komunitas”, ujar PJ.Wali Kota melalui sambutannya yang dibacakan oleh Sekda Tarakan.
Hal senada juga disampaikan Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, SE, M.PA. “Ini merupakan inisiatif dari komunitas, kita mencoba memfasilitasi keinginan masyarakat. Mengapa memilih Magrove dalam PRB 2024 ini, karena Tarakan itu adanya beberapa resiko bencana, salah satunya adalah Tarakan memiki sesar. Sesar gempa itu ada di kita, makanya mengetahui Tarakan itu disekitar pulaunya sudah hampir gundul karena aktivitas manusia, kita kembali lagi untuk menanam Mangrove yang diketahui dapat mengurangi kecepatan bila terjadi gempa atau Tsunami”, ujarnya.
Selain dari BPBD dan komunitas Gereja Santa Maria Imakulata Tarakan yang menginisiasi aksi penanaman Mangrove ini, tampak hadir juga Lantamal XIII Tarakan, Fakultas Perikanan Universitas Borneo, PMI Tarakan, DLH Tarakan, UPTD KPH Tarakan, Orari/Rapi Tarakan, Komunitas Mantap Indonesia, serta para peserta lainya, dan sejumlah relawan lingkungan yang ada di kota ini.
Saat ditanya awak media, alasan mengapa mau terlibat di aksi kali ini, Ikma salah seorang peserta yang juga merupakan Dosen Fakultas Perikanan UBT Tarakan, menyebutkan soal kepeduliannya. “Ini merupakan salah satu cara kami, Fakultas Perikanan untuk menjaga ekosistem, makanya kami sangat tertarik ketika ada penanaman Mangrove di Tarakan. Berdasarkan hasil monitoring kami di lapangan, ada 9 titik penanaman Mangrove yang sudah dilaksanakan di wilayah kota Tarakan, itu hanya ada 2 lokasi yang bisa dijadikan keberlanjutan penanaman Mangrove selanjutnya, yaitu di Pantai Amal. Estimasi sekitar 5-10% bisa tumbuh di wilayah itu. Mudah-mudahan di lokasi ini bisa tumbuh untuk jenis Mangrove Api-Api sendiri”, tuturnya.
Aksi penanaman Mangrove ini dirasa penting untuk meningkatkan kapasitas kawasan pesisir dalam menghadapi ancaman bencana alam, terutama ancaman tsunami dan gempa bumi. Kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam memitigasi risiko bencana, sekaligus sebagai upaya melestarikan lingkungan pesisir yang memiliki peran vital bagi keseimbangan ekosistem.
Melalui kegiatan PRB kali ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan demi mengurangi risiko bencana di masa depan.










