EQUATOR-TV, TARAKAN – Ikan asin tipis, adalah satu makanan olahan dari sektor perikanan yang khas di Kota Tarakan, selain kepiting dan rumput laut. Siapa sangka olahan ikan asin tipis yang berasal ikan Pepija ini, dulunya hanya olahan ikan asin yang dikembangkan oleh salah seorang warga pendatang keturunan Sulawesi Selatan yang tinggal di Juata Laut, namun kini telah menjadi salah satu oleh-oleh favorit khas Kota Tarakan sejak lebih dari 20 tahun terakhir.
Begitu juga halnya yang digeluti oleh Riska, salah satu warga Juata Laut Rt.07, Kecamatan Tarakan Utara, yang sehari-harinya sebagai pelaku usaha mikro, ikan asin tipis sejak 22 tahun lalu secara turun-temurun. Usaha ini, sangat membantu menopang kebutuhan rumah tangganya sehari-hari, hingga mencapai lebih dari 5 juta rupiah setiap bulannya.
Lebih jauh lagi, yang menarik dari sejarah ikan asin tipis ini, ternyata konon katanya, di Sulawesi Selatan sendiri, warganya tidakada yang mengolah ikan Pepija menjadi olahan ikan asin tipis. Mengapa demikian ? Karena ternyata jenis ikan Pepija, hanya didapati di perairan Tarakan dan sekitarnya, hingga ke kawasan perairan Nunukan. Karena itulah, kala itu warga yang tinggal di kawasan Juata Laut ini, mulai mengolah ikan Pepija menjadi ikan asin tipis, yang kemudian saat ini terus menjadi komoditi unggulan khas Kota Tarakan.
Saat wawancaranya dengan Tim Liputan, Riska juga banyak menuturkan suka dukanya selama 22 tahun menggeluti usaha mikro ini bersama suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tangkap (ikan Pepija).
“Karena pencariannya kan di laut, yang namanya angin dan gelombang itu, ya ditakuti sama para pelaut. Jadi kadang kalau mereka (suami dan kakak saya) sudah pulang dari melaut itu, baru kami merasa lega karena mereka sudah sampai”, ujar Riska.
Olahan ikan asin tipis ini, biasanya ia lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu saja, usai sang suami datang membawa ikan Pepija hasil melaut. Dari tangkapan tersebut, kemudian ditampung di pos penampungan, dan secara beramai ramai ikan diolah dan dibuang kepala serta durinya, lalu dibelah menjadi dua, untuk kemudian keesokan harinya dijemur diatas dhari (rangka dari jaring dan kayu, tempat menjemur ikan asin tipis), dibawah terik sinar matahari hingga sore hari.
Dalam setiap 1 dhari, Riska bisa menghasilkan 1.2 kg ikan asin tipis, yang bisa dijual ke juragan mulai Rp.140ribu/per kilo. Bahkan kadang Rp.170ribu/per kilo kepada para wisatawan/tamu yang mungkin datang langsung untuk membelinya sebagai oleh-oleh. Tentunya harga dan kwalitas yang didapat pasti jauh berbeda, karena disini pembeli bisa mendapatkan ikan asin tipis yang masih “fresh”.
Dalam wawancaranya dengan Tim Liputan, Riska juga membagikan sedikit tips tentang bagaimana membedakan ikan asin tipis yang masih segar dengan yang sudah lama. “Jika membeli langsung dari tempatnya atau yang masih di dhari gitu kan, lagsung dari pengolahannya dibeli yang kering, itu masih segar”, ujarnya.
“Ikan asin tipis yang sudah tidak segar, akan memiliki tampilan permukaan berwarna kuning kecoklatan dan berbau. Kalau yang baru dan masih fresh, warnanya putih-putih gitu”, imbuhnya.
Selain itu, jenis olahan ikan asin tipis ini biasanya dapat kita jumpai dengan 2 macam pilihan, yakni ikan asin tipis yang tidak berbumbu dan yang sudah berbumbu. Untuk yang berbumbu, biasanya sebelum dilakukan penjemuran, telah dibumbui terlebih dahulu dengan ketumbar, dan gula merah. Biasanya ikan asin tipis berbumbu, adalah jenis olahan yang memang sudah merupakan pesanan khusus.
Olahan ikan asin tipis di kawasan Juata Laut ini, hingga kini masih terus bertahan, mesti nilai jual per kilo nya tak lagi dihargai seharga Rp.200ribu seperti dulu lagi. Namun keberadaan Lantamal XIII Tarakan, yang seringkali memberikan bantuan pembuatan dhari, penyediaan peti, dan mesin pada sejumlah kelompok nelayan yang ada di Juata Laut ini, dirasakan cukup membantu meringankan beban mereka.(RK)









