Oleh : Subono Samsudi
Bandung, tahun 1985. Kota masih sejuk, jalanan belum padat seperti sekarang. Setiap akhir pekan, kawasan Jalan Ganesha, Masjid Salman, hingga Taman Sari mendadak berubah jadi arena wisata berkuda. Kuda-kuda, mondar-mandir membawa anak-anak yang sedang berwisata di akhir pekan. Tapi begitu mereka pulang, yang tersisa di jalan adalah: ranjau darat.
Iya. Kotoran kuda. Banyak, berserakan dan bau. Kadang di trotoar. Kadang di tengah jalan. Dan kalau hujan? Wah, “banjir organik” menyebar, dan baunya cukup menyengat.
Kami, para penghuni asrama B Charade, di Jalan Ganesa 15 B, sudah mulai gerah. Maka suatu malam, digelarlah rapat informal. Agendanya bukan tentang studi, bukan pula rencana aksi demonstrasi. Tapi:
“Bagaimana caranya bikin kuda berhenti buang kotoran sembarangan?”
Dari obrolan serius-tapi-santai itu, lahirlah ide cemerlang sekaligus absurd:
“Kuda harus pakai celana.”
Pakai kantong khusus di bagian belakang, semacam popok elegan, tapi untuk kuda.
Tak disangka, ide itu disambut dengan semangat 45. Segera kami bentuk panitia lomba desain celana kuda. Dan saya—karena entah alasan logika apa—ditunjuk sebagai ketua. Mungkin juga karena saya waktu itu menjabat sebagai “Senior 3” yang membawahi “anak baru,”‘ penghuni Asrama B. Dan mungkin juga karena saya sudah duduk di semester akhir, tidak terlalu sibuk kuliah. Allahu A’lam.
Kami pun mencari sponsor, pendukung dana. Khususnya untuk hadiah lomba Juara 1, 2, dan 3. Alhamdulillah, Prof. Hasan Purbo (almarhum), Kepala PPLH ITB (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup), mendukung penuh.
Lomba digelar, desain mengalir, dan akhirnya mahasiswa Seni Rupa ITB keluar sebagai juara dengan desain celana yang futuristik sekaligus fungsional. Murah, sederhana tapi kudanya merasa nyaman. Celana Kuda warna hitam dari ban dalam bekas.
Beberapa hari kemudian ada wartawan Tempo yang mewancarai saya.Belakangan berita tentang celana kuda dimuat di kolom Indonesiana Majalah Tempo.
Dan kejutan yang menggembirakan panitia datang. Disain Celana Kuda
itu menarik Bapak Walikota Bandung saat itu, Pak Ateng Wahyudi (almarhum). Beliau mengundang kami ke Balai Kota. Tak lama kemudian, lahirlah aturan baru: Kuda di Kota Bandung diwajibkan memakai celana!
Sekarang, 40 tahun kemudian, ketika saya mengingat momen itu—sambil tersenyum geli—saya sadar: dari keluhan kecil yang tampak sepele, bisa lahir gerakan kreatif yang nyata dampaknya. Panitia yang kerja tak perlu honor, konsumsi, atau biaya seremonial lainnya. Kerja dengan gembira dan ikhlas.
Kami mungkin cuma mahasiswa biasa, tapi saat muncul ide solutif, yang bahkan mungkin ada yang menilai konyol, dibalut niat baik dan dijalankan serius, ia bisa jadi solusi… Bahkan menjadi kebijakan Walikota dalam rangka mengatasi persoalan nyata.
Ide dari Asrama Mahasiswa, menjadi kebijakan di
Jadi, jika kamu hari ini berjalan-jalan di Bandung dan melihat kuda berkeliaran dengan celana, ingatlah:
Itu bukan fashion show. Itu warisan dari sekumpulan mahasiswa yang masih lugu, geli, dan kesal karena sandal mereka sering menginjak ‘ranjau darat organik’ zaman dulu. Hehe












