EQUATOR-TV-SURABAYA – Jono dan Yusuf, peternak lele asal Kelurahan Morokrembangan, RT 10 RW 05 Gadukan Utara ini, menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan lingkungan. Lewat semangat pantang menyerah, mereka berhasil menjaga keberlangsungan usaha di tengah ancaman limbah, keterbatasan pasar, hingga serangan hama.
Kini, lewat program KKN Kelompok 13 UPN “Veteran” Jawa Timur, usaha mereka mendapat sentuhan baru berupa pendampingan dan rebranding. Hal ini dituturkan Jono pada Sabtu (11/7/2025), dilokasi peternakan lele miliknya. “Waktu itu satu keramba lele mati semua,” kenangnya.
Jono mengisahkan perjalanannya selama beternak lele. Ia mengelola keramba lele dengan sistem panen tiga bulanan. Lele dipilah terlebih dahulu sehari sebelum panen. Panen dilakukan pada dini hari sebelum pasar buka agar ikan tetap segar saat sampai di tangan pembeli. Namun, keberhasilannya ini, tak didapatkanya dengan mudah. Ia pernah mengalami gagal panen total akibat air limbah yang masuk ke kolam.
Untuk mencegah kejadian serupa, ia membangun tanggul di sekeliling kolam. Selain itu, air di area keramba juga dibendung untuk mencegah masuknya air asin dari laut yang berpotensi mencemari habitat ikan. Tidak hanya itu, serangan hama seperti biawak dan burung kuntul juga menjadi masalah tersendiri. “Karena itu, keramba harus ditutup atasnya biar nggak diserang,” ujarnya.
Jono menggunakan pakan jenis pelet yang cukup mahal, namun dianggap paling efektif. Dengan harga bibit sekarang yaitu mencapai harga Rp 200.000. Dalam satu panen, ia bisa menjual sekitar 80 kilogram lele ke satu tengkulak langganan, dengan harga Rp 20.000 tiap kg lele. Meskipun skala penjualan masih terbatas, penghasilan tetap datang secara rutin. “Dulu kita sering mati berton-ton lele karena limbah,” tuturnya.
Sementara itu, hal senada juga dituturkan Yusuf, yang telah menjalankan budidaya lele selama 15 tahun. Di usia senja, ia tetap setia merawat keramba miliknya, yang juga pernah mengalami kerugian besar akibat pencemaran limbah, sebelum akhirnya membangun bendungan sederhana untuk menahan air tercemar. Ia juga aktif mengedukasi masyarakat agar tak membuang sampah sembarangan di sekitar kolam. “Bantuan dari dinas sudah beberapa kali saya bongkar karena tidak dirawat,” tambahnya. Menurut Yusuf, beberapa warga sempat mencoba usaha serupa, namun berhenti setelah satu-dua kali panen.
Kegiatan mahasiswa KKN di wilayah tersebut tidak sekadar dokumentasi atau observasi. Mahasiswa Kelompok 13 terlibat langsung dalam perancangan logo, spanduk, serta penyusunan strategi promosi sederhana untuk memperkuat citra usaha. Harapannya, langkah rebranding ini dapat meningkatkan nilai jual dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Kegiatan ini sejalan dengan pentingnya sektor perikanan budidaya di Indonesia. Budidaya ikan lele dikenal sebagai usaha yang relatif mudah, tahan terhadap lingkungan, dan digemari masyarakat. Lele juga kaya gizi, sehingga sangat penting untuk konsumsi masyarakat. Berdasarkan data yang dikutip dari Astawan (2008), dalam setiap 100 gram ikan lele terkandung protein 17,7%, lemak 4,8%, mineral 1,2%, dan air 76%, yang sangat penting untuk pemenuhan gizi keluarga. Hal ini menjadikan perikanan budidaya sebagai salah satu pilar dalam pemenuhan konsumsi protein hewani di Indonesia.
Dengan kolaborasi antara masyarakat dan mahasiswa, peternakan lele seperti milik Pak Jono dan Pak Yusuf diharapkan tidak hanya bertahan secara ekonomi, tetapi juga menjadi contoh nyata usaha tangguh dan berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan lokal.
Sumber: Astawan, M. (2008). Khasiat Warna-Warni Makanan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.










