EQUATOR-TV, BULUNGAN– Pemerintah Kabupaten Bulungan menggelar Rapat Koordinasi (RAKOR) Transport Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE), sebagai bagian dari implementasi program prioritas daerah berbasis lingkungan. Kegiatan ini berlangsung di Aula Rumah Jabatan Bupati Bulungan, pada Selasa siang (22/7/2025), yang dihadiri oleh kepala desa, camat, serta mitra strategis pembangunan daerah.
Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd., M.Si menyampaikan bahwa RAKOR ini merupakan bentuk konkret kolaborasi lintas sektor dalam membangun Bulungan Hijau—satu dari 15 program prioritas Kabupaten Bulungan. “RAKOR hari ini spesifik membahas program TAKE, yaitu sistem transportasi anggaran kabupaten berbasis ekologi. Ini adalah upaya konkret yang kita lakukan bersama pemerintah desa, perangkat daerah, serta mitra strategis pembangunan,” ungkap Syarwani.
Program TAKE telah diimplementasikan sejak tahun 2023. Di tingkat desa, komitmen tersebut terwujud melalui pengalokasian minimal 5% dari Alokasi Dana Desa (ADD) untuk kegiatan berbasis ekologi. Sedangkan di tingkat kabupaten, pada tahun 2025 ini, Pemkab Bulungan mengalokasikan dana sebesar Rp7 miliar untuk mendukung program TAKE.
Menariknya, pendanaan tersebut diberikan melalui skema kompetisi antar desa. Pemkab menetapkan indikator penilaian yang ketat untuk menentukan desa yang berhak menerima bantuan, dengan hadiah berjenjang untuk juara 1, 2, dan 3. “Program TAKE kita kompetisikan. Tidak semua desa ikut serta, namun yang memenuhi indikator akan mendapat dukungan anggaran. Ini mendorong semangat inovasi dan keberlanjutan di tingkat desa,” jelas Syarwani.
Beberapa desa yang telah berhasil menunjukkan hasil nyata dari program ini adalah Desa Pejalin dan Desa Antutan, khususnya di sektor perkebunan seperti kakao. Program tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan ekonomi hijau dapat menggerakkan perekonomian lokal secara signifikan.
Syarwani menekankan pentingnya sinergi antara berbagai elemen pemerintahan dan mitra strategis. Dalam pelaksanaan program TAKE, tidak hanya Pemkab Bulungan yang terlibat, tetapi juga perangkat desa dan tim pendamping dari Mitra Strategi Pembangunan Daerah. “Yang penting dari RAKOR ini adalah satu visi. Kita ingin bangun ekonomi masyarakat tapi tidak melupakan komitmen terhadap lingkungan. TAKE adalah wujud ekologi dan ekonomi yang saling menopang,” tegas Syarwani kepada Tim Liputan .
Selain mendukung sektor ekonomi, program ini juga mulai menyasar isu-isu ekologis seperti pengelolaan sampah di desa-desa. Melalui indikator yang telah disusun, program ini mendorong desa-desa untuk menerapkan prinsip lingkungan berkelanjutan. Di hadapan peserta RAKOR, Syarwani juga menyoroti tantangan serius dalam tata kelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bulungan. Syarwani mengakui bahwa sistem pengelolaan saat ini masih menggunakan metode open dumping, yang tidak ramah lingkungan dan bertentangan dengan arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). “Saya sudah dua kali hadir dalam rapat nasional bersama KLHK, dan arahan Pak Menteri tegas: kita harus hentikan sistem open dumping. Sampah tidak boleh lagi dikelola dengan cara itu,” ungkapnya.
Namun, Syarwani juga mengakui bahwa keterbatasan sarana dan transportasi masih menjadi kendala utama. Pengangkutan dari Tempat Pengumpulan Sampah (TPS) ke TPA masih dilakukan setiap hari oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan sistem ideal zero waste to landfill belum dapat diterapkan sepenuhnya. “Kedepan, kita harapkan pengelolaan sampah bisa habis di tempat, sehingga hanya residu yang masuk ke TPA. Tapi saat ini kita masih berproses dan terus berbenah,” tambahnya. Pembinaan dan pengawasan akan terus dilakukan, termasuk dengan kehadiran satuan tugas dari kementerian yang dijadwalkan akan turun langsung ke Bulungan pada Agustus 2025.
RAKOR TAKE yang digelar hari ini menjadi tonggak penting dalam upaya pembangunan Bulungan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan kompetisi antar desa dan kolaborasi lintas sektor, program ini diharapkan menjadi model pembangunan yang tidak hanya menumbuhkan ekonomi lokal, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. “Ini bukan sekadar program, tapi komitmen jangka panjang kita. TAKE adalah kendaraan menuju Bulungan Hijau,” pungkas Bupati Syarwani (RT).










