EQUATOR TV, BULUNGAN— Guna mengevaluasi pelaksanaan program Bangga Kencana di daerah, sekaligus sarana memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar kegiatan Review Program Bangga Kencana sekaligus Quick Wins Kementerian Dalam Negeri dan BKKBN pada Rabu (17/9/25).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Serbaguna Lantai 1 Kantor Gubernur Kaltara, Tanjung Selor ini, diikuti oleh jajaran pemerintah provinsi, mitra kerja, serta perwakilan dari lima kabupaten/kota di Kaltara.
Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum, yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Setdaprov Kaltara, Pollymaart Sijabat, SKM., M.A.P., menjelaskan bahwa review dilakukan untuk melihat sejauh mana program sudah berjalan, termasuk apa saja kendala yang muncul di lapangan.
“Namanya review itu evaluasi. Jadi kita mau lihat apa kendalanya, dan OPD terkait akan memaparkan capaian maupun hambatannya,” jelasnya.
Menurutnya, peran BKKBN di Kaltara juga sekaligus mewakili pusat dalam mengoordinasikan jalannya program di lima kabupaten/kota.
Pelaksanaan Bangga Kencana tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus berkolaborasi dengan banyak OPD. “Ada penyuluh-penyuluh di lapangan, ada juga dukungan dari OPD teknis. Jadi memang harus sinergi antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,” katanya.
Dalam review tersebut, isu utama yang menjadi perhatian adalah penurunan angka stunting. Stunting bukan hanya urusan kesehatan, tapi juga menyangkut ekonomi, pendidikan, hingga pola makan masyarakat.
“Kita masih sering bergantung pada karbohidrat, padahal gizi seimbang itu penting. Harus ada protein, buah, dan sayur. Ini yang terus kita edukasikan ke masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pentingnya pencegahan sejak dini, terutama bagi pasangan calon pengantin, agar diberi pembekalan tentang gizi, kesehatan reproduksi, dan pola asuh anak, sehingga dapat menekan risiko terjadinya stunting.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau dari awal disiapkan, anak yang lahir bisa tumbuh sehat. Kalau sudah stunting, perbaikannya jauh lebih sulit,” tambahnya.
Ia optimis, dengan duduk bersama dan melibatkan banyak pihak, persoalan stunting bisa diatasi. “Contohnya saja, masih ada anak-anak yang tidak suka makan ikan atau sayur. Padahal kandungan gizinya berbeda dengan ayam. Ini yang harus terus diedukasi. Kalau semua OPD bergerak bersama, saya yakin kita bisa menurunkan angka stunting di Kaltara,” pungkasnya. (RT)










