EQUATOR-TV, TARAKAN – Persoalan stunting hingga kini masih terus menjadi persoalan serius bagi pemerintah. Hal ini dikarenakan stunting dapat menurunkan kemampuan kognitif, menghambat produktivitas, serta mengurangi daya saing generasi mendatang.
Penanganan stunting dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa dan khususnya pembangunan daerah.
Untuk itu, Pemerintah Kota Tarakan dirasakan perlu untuk menggelar Pra Musrenbang Tematik Stunting pada Jumat pagi (13/3/2026).
Musrenbang yang digelar di Gedung Serbaguna Kantor Wali Kota Tarakan ini, dihadiri berbagai pemangku kepentingan dan dibuka oleh Wakil Wali Kota Tarakan, Ibnu Saud Is, mewakili Wali Kota Tarakan, dr.Khairul, M.Kes.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Kota Tarakan tercatat sebesar 12,8 persen dan menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Karenanya tahun 2026 ini dinilai menjadi momentum penting dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.
Lewat forum Musrenbang Tematik Stunting 2026 ini, diharapkan dapat menjadi sarana untuk memetakan secara lebih konkret titik-titik permasalahan stunting di Kota Tarakan.
Pemetaan tersebut nantinya diharapkan dapat menghasilkan kebijakan dan program yang lebih tepat sasaran.
Dalam forum ini juga disampaikan kebijakan daerah dalam aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting yang merujuk pada lima ketentuan RPJMN 2025–2029, di antaranya penanggulangan kurang energi kronik pada ibu hamil, pemberian makanan tambahan pada balita, suplementasi gizi mikro, pemenuhan ASI eksklusif, serta pendampingan pada 1000 hari pertama kehidupan.
Wakil Wali Kota Tarakan Ibnu Saud Is mengatakan berbagai usulan program yang muncul dalam forum tersebut pada dasarnya dinilai baik karena telah disusun berdasarkan data, namun tetap harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
“Misalnya di satu daerah katakanlah seperti di area timur, khususnya di kawasan Pantai Amal, karena disana angkanya masih cukup tinggi, relatively compare dengan daerah yang lain di Tarakan,” ujar Ibnu.
Menurutnya, secara umum kondisi stunting di Tarakan masih tergolong baik jika dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Utara maupun secara nasional. Namun, masih terdapat beberapa wilayah yang memerlukan perhatian khusus.
“Nah, kita dengar sendiri usulan-usulan dari misalnya dari Tarakan Timur lurahnya hadir, ada pak camatnya hadir dan begitu juga kan ada yang mewakili DPRD,” katanya.
Ia berharap program-program yang disusun tidak hanya fokus pada penanganan stunting secara langsung, tetapi juga mencakup sektor lain yang memiliki keterkaitan dengan permasalahan tersebut.
“Sehingga diharapkan nanti semua program-program yang ada yang-yang bukan hanya bicara penanganan stunting tapi misalnya di sektor yang lain tapi harus memiliki relevansi atau korelasi dengan, penanganan stunting. Itu yang kita harapkan,” tutupnya.(VT)










