EQUATOR-TV-BULUNGAN – Tiga Kepala Lembaga Adat Bulungan dan Berau bersatu dan berkumpul di Baratan Tanjung Selor, pada Sabtu siang (8/3/2026), guna membahas soal arah dan strategi program dan kebijakan kesultanan ditengah tengah hiruk-pikuk perkembangan pembangunan Kaltim dan Kaltara.
Sejauh ini peran kesultanan sebagai pewaris tahta istana kesultanan, baik Bulungan, Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, seolah terpinggirkan peranannya.
Atas dasar itulah empat Ketua Adat Kesultanan, yakni Ketua Lembaga Adat Kesultanan Bulungan Provinsi Kaltara Dt.Buyung Perkasa, Ketua Adat Bulungan Kabupaten Bulungan Darmansyah, berembuk dengan Ketua Lembaga Adat Gunung Tabur Berau, PJM Adji Raden Moh.Bahrun dan Sultan Sambaliung, PJM Dt.Amir MA, Sultan Raja Muda Perkasa.
Dalam pertemuan yang berlangsung di rumah kediaman Ketua Adat Kesultanan Bulungan Darmasyah, Medang Kampung Baratan Desa Seriang Tanjung Selor, Bulungan Kaltara, para tokoh kerabat Kesultanan Berau dan Bulungan ini membahas agar kerabat Kesultanan mendapat perhatian pemerintah lintas sektoral, pusat maupun pemerintah daerah.
Darmansyah, Ketua Adat Kesultanan Bulungan menyebutkan tujuan pertemuan tersebut. “Kami mengadakan pertemuan untuk membahas masalah kehidupan setiap hari kami, bahwa perusahaan yang banyak ada di wilayah Kabupaten Berau atau Kabupaten Bulungan, tidak pernah menyentuh wilayah kesultanan atau lembaga-lembaga adat yang ada di Kabupaten Bulungan. Yang pertama masalah perijinan, itu berhubungan dengan bupati, gubernur, langsung ke desa. Jadi kami tidak mendapat apa-apa dari pihak kesultanan, hanya kami mendapat debu. Sedangkan kami mempertahankan nama Kesultanan Bulungan itu, melalui proses perjuangan. Berau itu juga sebelum Bupati Berau, ada yang namanya Sultan Berau. Kami adalah serumpun dari Sultan Bulungan dan Sultan Berau, menurut Sejarah,” jelas Darmansyah.
“Berdirinya Sultan Bulungan itu, atas dukungan Sultan Berau pada tahun 1731. Maka hasil Bulungan itu dibagi dengan Berau. Maka saya selalu Ketua Lembaga Adat inilah menjalankan silaturahmi ini dengan Sultan Berau, agar aset-aset leluhur kami bisa terjaga ketiga Sultan ini,” imbuhnya
Sejumlah kesepakatan pun dirumuskan untuk menjadi agenda Serumpun Kesultanan, yakni soal sosial, ekonomi dan penguatan lembaga serta koneksi kerjasama pemerintah untuk membangun daerah.
Maka kami sepakat untuk menjaga tanah ulayat itu, yangmana selama ini perusahaan tidak pernah mempertimbangkan atau pemerintah perjuangan leluhur kami,” imbuh Darmansyah.
“Kami sepakat ingin membuat kebun Sultan Bulungan Berau secara mandiri. Dan saya sebagai Ketua Adat Kesultanan Bulungan juga akan membuat kebun adat, untuk menghidupkan Lembaga Adat, karena Lembaga Adat ini bekerja sangat berat, tapi tidak ada biaya kami, hanya ada biaya kami sendiri. Maka saya selaku Ketua Adat Kesultanan Bulungan ingin membuat kebun adat itu, untuk meningkatkan kehidupan lembaga adat tersebut,” terangnya.
Selain itu, Dt.Buyung Perkasa sendiri selalu Ketua Lembaga Adat Kesultanan Bulungan mengatakan, bahwa tiga kesultanan telah membangun agenda program di berbagai lini, salah satunya adalah akan melakukan pertemuan dengan pemerintah provinsi dan kabupaten masing-masing wilayah, agar keberadaan kesultanan diberi porsi berkontribusi dalam pembangunan dan arah kebijakan pemerintah.
“Saya cucu Sultan Bulungan, yangmana sampai saat ini, baik dari Kesultanan Bulungan dan Berau yang dulunya belum melakukan kesepakatan, hari ini hari Sabtu, tepatnya di rumah Ketua Adat Bulungan, kami melakukan kesepakatan yang mana kedepannya agar kami benar-benar diperhatikan oleh Pemerintah Daerah setempat”, ujarnya
“Kami akan melakukan silaturahmi dengan Bupati Kabupaten Berau atau Bulungan, untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami, terutama masalah faktor ekonomi, bagaimana kami dari kesultanan bisa mendapatkan kesejahteraan yang layak. Mengingat sebelum RI ada, kesultanan itu telah ada, “terangnya.
Sementara itu, PJM Dt. Amir MA Sultan Raja Muda Perkasa, yakni Sultan Sambaliung, menekankan peran masyarakat adat agar tidak hanya jadi penonton saja.
“Kita ada disini untuk menungkik jaman-jaman orang tua kami dulu, kesultanan dulu. Supaya kita masing-masing saudara jangan sampai dipecah belah orang lain. Andai kita bersatu, kita bisa berembug untuk membuat perkebunan antara Berau, Bulungan, Gunung Tabur pun kita bersatu, supaya kita tidak menonton lagi, ” terangnya.
“Biasanya orang yang kerja, kita menonton. Batubara di Kabupaten Berau dikeruk trus, bila tenggelam Berau, ia pulang kerumahnya, kita tidak dapat apa-apa,” tegasnya.
Terkait pertemuan ini, Ketua Adat Kesultanan Gunung Tabur Berau, PJM Adji Raden Moh. Bahrun, juga membeberkan tujuan kunjungan mereka.
“Kami bersama paduka yang mulai sultan Sambaliung Dt.Amir, datang kesini untuk menyampaikan visi dan misi kami untuk menyatukan persamaan, dimana saat ini kita sebagai ahli waris dari nenek moyang kita, tidak pernah merasakannya. Karena itu kita dari Kesultanan Sambaliung, Gunung Tabur, Bulungan adalah bersaudara. Untuk itu kedepannya kita akan bersama-sama membangun Berau Bulungan ini, “ujar Adji.
Lebih jauh lagi, kerabat kesultanan Berau dan Bulungan ini, secara ekonomi juga berencana akan membangun kebun ulayat sebagai sumber pendapatan ekonomi kesultanan.
Sementara itu, secara sosial, Kesultanan Bulungan akan menghibahkan lahan seluas 10 Hektar untuk dijadikan kompleks Lapas di Kalimantan Utara, yang hingga kini belum dimiliki Pemprov Kaltara.
Dalam bidang kelembagaan, Kesultanan Gunung Tabur, Sambaliung maupun Kesultanan Bulungan akan melakukan pertemuan dengan pemerintah Provinsi, Kabupaten hingga Pemerintah Pusat, untuk menyampaikan aspirasi dan program tiga kesultanan di pulau Kalimantan ini.
Kerabat kesultanan ini juga akan melakukan kunjungan ke Kaltim dan kerajaan Kutai Kartanegara di Kukar, untuk memperkuat agenda-agenda yang bersifat keraton agar marwah kesultanan tidak luntur.
Dalam pertemuan tiga kesultanan tersebut, dihadiri juga oleh sejumlah pilar putra-putri daerah yang terafiliasi di dalam kelompok Laskar, sebagai underbow kesuktanan baik Berau maupun Bulungan.
Sejumlah underbow itu antara lain, Laskar Permada, Laskar Tameng Adat Borneo dan Aliansi Benua Serumpun Bulungan. (SMO)










