EQUATOR-TV, BULUNGAN – Kreativitas tinggi ditunjukkan oleh Alex seorang pengusaha kerajinan rotan dan mebel berusia 60 tahun yang mampu mengolah bahan baku rotan menjadi aneka produk yang memiliki nilai jual tinggi.
Alex yang membuka usahanya di jalan Jelarai, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara tersebut, memanfaatkan
bahan baku rotan yang melimpah, tak hanya dibuat menjadi keranjang atau perabot biasa, melainkan disulapnya menjadi produk yang berbeda dan lebih menarik, yakni sebuah kursi sudut.
Berbeda dengan model kursi rotan pada umumnya, karya ini didesain khusus dengan bentuk yang unik, nyaman, dan memiliki nilai estetika tersendiri.
Dalam wawancaranya dengan Tim Liputan Equator TV pada Selasa (28/04/2026), ia mengaku bahwa usahanya ini ia jalankan untuk mengoptimalkan sumber daya alam lokal yang ada. Produk yang dibuatnya ini, memiliki nilai harga yang berbeda-beda berdasarkan tingkat kesulitannya.
“Yang pertama saya pilih usaha ini karena memang sudah pilihan produksi kami kan, lagi pula kita memperdayakan masyarakat sini karena bahan baku disini melimpah, jadi bagaimana caranya kita gunakan bahan baku yang ada” ucapnya
“Sebenarnya harga itu bermacam-macam karena bervariasi yang di produksi, ada seperti ini keranjang ini paling rendahnya 100 ribu, ada juga parsel 50 ribu, terus masuk ke kursi, kursi itu ada dua macam harga di dalam, yang kursi sudut 6 juta 5 ratus, jadi ada juga namanya bangku biasa harga 5 juta 5 ratus itu” sambungnya.
Dalam usahanya, kini ia memilih menetap dan mengembangkan bisnis mebel rotannya di Tanjung Selor demi mencoba peruntungan dan berdiri secara mandiri.
“Sebelumnya dari Sulawesi pertama terus kebetulan merantau ke Malinau, ya kita sambung usaha itu ke Malinau, ya khusus rotan atau mebel rotan, kemudian 6 tahun disana kita coba-coba bagaimana mandiri, artinya berdiri sendiri ya, pindahlah kami ke Tanjung Selor sini dan disini baru berjalan 5 bulan. Kita liat bagaimana situasinyalah pemasaran disini nanti kita lihat disitu” ujarnya.
Selain itu, ia juga menceritakan beberapa Kendala yang di hadapinya.
“Kendala sih tetap ada, pertama kadang-kadang keterlambatan bahan baku, biasa kan kita mengharapkan bahan baku dari Malinau, terus masalah pemasaran juga, mungkin karena belum terkenal kah atau belum di kenal daerah sini, karena kami kan mengingat baru 5 bulan jadi mungkin butuh proseslah begitu” ungkapnya.
Kedepannya, ia berharap semoga usahanya bisa lebih dikenal oleh banyak orang dan pemasarannya tidak hanya secara langsung namun juga melalui media sosial.(NA)









