EQUATOR-TV, TARAKAN – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Kalimantan Utara (Kaltara) berlangsung di Gedung Banhub Juwata, Kota Tarakan, Selasa sore (8/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Hj. Khofifah Indar Parawansa, yang diawali dengan pembacaan Salawat Nabi Muhammad SAW.
Kehadiran Khofifah menjadi perhatian dalam peringatan Harlah yang sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran Muslimat NU di wilayah perbatasan.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Zainal A. Paliwang, SH., H., M.Hum., Dirpolairud Polda Kaltara Kombespol Tidar Wulung Dahono, SH., SIK., MH., Wakil Wali Kota Tarakan Ibhu Saud Is, serta para undangan lainnya.
Ketua Panitia Harlah ke-80 Muslimat NU, Sumiati, menyampaikan apresiasinya kepada Pemprov Kaltara yang dinilai telah memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan Muslimat NU.
“kami ucapkan terimasih pada Pemprov Kaltara yang banyak mendukung kegiatan Muslimat NU”, ucapnya.
Ia berharap kehadiran Ketua Umum dan Gubernur Kaltara dapat menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan pemberdayaan Muslimat NU di Kalimantan Utara.
“Kami berharap hadirnya ibu Ketua Umum dan Gubernur Kaltara dapat bekerjasama untuk pemberdayaan Muslimat NU di Kaltara, “tutupnya.
Selain peringatan Harlah, kegiatan juga diisi dengan pembacaan surat terbuka bersama berupa imbauan untuk menghentikan perang dunia. Pesan tersebut menyoroti dampak konflik bersenjata yang terus menelan korban, khususnya perempuan dan anak-anak.
Dalam kegiatan itu disebutkan bahwa NU memiliki sekitar 32 juta anggota dan memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan perdamaian serta penghentian konflik bersenjata.
Sementara itu, Gubernur Zainal menilai usia 80 tahun menjadi momentum penting bagi Muslimat NU untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat peran organisasi dalam kehidupan masyarakat.
“8 dekade bukan perjalanan yg singkat tapi sekaligus pijakan bagi kita semua.
Tema ini sangat relevan dengan perkembangan jaman. Sebagai momentum untuk bercermin pada nilai-nilai yg harus kita hidupkan di organisasi, dan keluarga. 80 th jg merup momentum strategis utk meneguhkan peran umat dalam keluarga”, ujar Zainal.
Menurutnya, keberadaan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan memiliki tantangan tersendiri di wilayah perbatasan seperti Kalimantan Utara.
Karena itu, ia berharap NU dapat mengambil peran lebih besar, khususnya dalam pembinaan generasi muda.
“Menggerakkan organisasi adalah hal yg susah di Perbatasan Kaltara. Saya berharap NU jadi garda terdepan utk mendidik generasi muda di Kaltara”, imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan organisasi untuk mengikuti perkembangan zaman dan mengambil peran dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Adaptif mengambil peran dalam setiap kehidupan”, ucapnya.
Usai penyampaian sambutan dari Gubernur Kaltara, Khofifah Indar Parawansa kemudian menyapa jajaran PC Muslimat NU se-Kalimantan Utara yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Khofifah mengingatkan bahwa peringatan Harlah Muslimat NU kali ini juga beriringan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Kita selain memperingati Harlah NU juga memperingati Maulid Nabi. Saya ingin mengajak panjenengan smua kita hadir disini selain memperingati harlah NU jg Maulid Nabi”, ajak Khofifah.
Khofifah kemudian menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Menurutnya, harapan setiap orang tua pada akhirnya adalah melihat anak-anak mereka tumbuh menjadi generasi yang saleh dan salehah.
“Pak Gub tadi menyampaikan kita mendidik anak anak. Semua ortu berharap dan berdoa smua anak anaknya jadi anak yg sholeh sholehah”, ucap Khofifah.
Ia juga mengaitkan peran Muslimat NU dengan tanggung jawab besar dalam membina generasi penerus bangsa, khususnya melalui keluarga.
“Yang ibu nyanyikan tadi, kita ingin mendidik, membina putra putri bangsa”, ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung capaian dan kesiapan NU dalam melanjutkan berbagai program organisasi. Salah satunya ditandai dengan adanya 2.600 paralegal yang telah berhasil diwisuda. Bahkan organisasi masyarakat perempuan ini saat ini dikenal dengan jumlah profesor perempuan terbanyak di Indonesia, yakni berjumlah sekitar 156 orang.
Keberadaan 156 profesor perempuan dalam barisan Muslimat NU menunjukkan bahwa organisasi ini tidak hanya kuat secara massa, tetapi juga memiliki kekuatan intelektual perempuan yang dapat berkontribusi dalam pembangunan bangsa. (RK)








