EQUATOR-TV, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara resmi menutup Pendidikan dan Pelatihan Bahasa Mandarin bagi para pendidik SMA dan SMK Negeri di Kabupaten Bulungan pada Sabtu pagi (7/12/2024), bertempat di Gedung Gubernur Lama, Tanjung Selor.
Dalam acara penutupan ini, hadir beberapa perwakilan guru dari SMA dan SMK se-Kabupaten Bulungan, serta sejumlah tokoh penting, di antaranya Dr. Moch. Syahri, S.Sos., M.Si., Dekan Fakultas Sastra Universitas Mulawarman (Unmul), Dr. Dewi Kartika, M.Pd., Ketua Departemen Sastra Jerman FS UM, dan Dr. Dudy Syafruddin, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FS UM. Selain itu, turut hadir Ibu Amira Eza Febrian Putri, S.Pd., MTCSOL, Ketua Satgas Kerjasama Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FS UM, Ibu Dyah Triajeng P.P.R., S.E., Sub Koordinator Keuangan dan Kepagawaian FS UM, serta Ibu Rochmayanti, Staf Keuangan dan Kepagawaian FS UM.
Pelatihan yang berlangsung lebih dari empat bulan ini, memberikan bekal keterampilan bahasa Mandarin kepada para pendidik, yang nantinya akan diteruskan kepada siswa-siswi SMA dan SMK Negeri di Kabupaten Bulungan. Di tengah semakin tingginya permintaan akan keterampilan bahasa Mandarin di dunia kerja dan dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi penerus agar lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara, Drs. Teguh Henri Sutanto, M.Pd., dalam wawancaranya dengan tim liputan menjelaskan bahwa pemilihan bahasa Mandarin sebagai fokus pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan globalisasi. “Bahasa Inggris adalah yang utama, tetapi bahasa Mandarin juga semakin penting. Banyak investor yang menanamkan modal di Kaltara berasal dari Cina, sehingga kemampuan berbahasa Mandarin akan menjadi kompetensi tambahan yang sangat berguna bagi para lulusan SMA dan SMK di daerah ini. Kami ingin agar generasi muda di Kaltara siap bersaing dengan keterampilan bahasa yang dibutuhkan di dunia kerja,” ujar Teguh.
Teguh juga menambahkan, langkah pertama dalam implementasi bahasa Mandarin adalah mempersiapkan guru-guru dengan pelatihan yang memadai. Setelah itu, tahap berikutnya adalah memasukkan bahasa Mandarin ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. “Kami mulai dengan melatih para guru, kemudian akan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum untuk diimplementasikan secara bertahap di satuan pendidikan,” jelasnya.
Dengan penutupan pelatihan ini, diharapkan para pendidik dapat melanjutkan misi penting ini, menjadikan bahasa Mandarin sebagai salah satu keterampilan tambahan yang siap memperkuat daya saing siswa-siswi di Kaltara, sekaligus mempersiapkan mereka untuk menghadapi pasar kerja global yang semakin terhubung. (DK)










