EQUATOR-TV, TARAKAN – Di tengah konflik yang terus membara di Gaza, Palestina, Indah Melya Sari, A.Md.Keb, bidan muda asal Tarakan, berhasil pulang ke tanah air setelah dua bulan menjadi relawan medis bersama Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia ke 8, sebuah NGO yang concern memberikan bantuan kemanusiaan Indonesia pada bantuan medis dan penanganan krisis, terutama di kawasan bencana alam, perang, dan konflik. EQUATOR TV, secara khusus berkesempatan mewawancarai langsung Indah pada Jumat sore (02/05/25), di Kedai Kopique Tarakan.
Dalam penuturannya pada Tim Liputan, Indah memilih meninggalkan kenyamanan profesinya di RSUD dr. H. Yusuf SK untuk sementara waktu, demi misi kemanusiaan yang dia pilih. Niat mulianya tak mudah diwujudkan. Ia harus menaklukkan rasa takut dan meminta restu keluarga, terutama sang ibu.
“Awalnya saya ikuti Mer-C sejak 2009. Saat perang Gaza pecah Oktober 2023, hati saya tergerak. Saya minta petunjuk Allah. Kalau benar ridho-Nya, saya yakin jalan akan terbuka,” katanya. Restu sang ibu menjadi kunci. “Ridhonya Allah ada di ridho orang tua. Dua hari setelah saya ungkapkan niat, ibu saya bilang ikhlas melepas,” ujarnya haru.
Berangkat 28 Februari 2025, Indah bersama lima relawan lain masuk Gaza lewat jalur WHO. Ia menangis saat melihat anak-anak menyambut mereka dengan teriakan, “Ahlan wa sahlan!” “Rasanya tak percaya sudah sampai Gaza. Mereka memandang kami sebagai penolong di tengah kehancuran,” kenangnya.
Ledakan bom terdengar nyaris setiap menit, setidaknya ada 3 ledakan boom dan ratusan kali dentuman Merkava. Namun, rasa takut itu ternyata hanya sesaat. Ketakutan hanya terasa di hari pertama saja, sisanya dihadapi dengan doa. “Kami minta pada Allah cabut sedikit saja rasa takut ini,” ujarnya. Indah menyaksikan sendiri kondisi korban, termasuk anak-anak, di Rumah Sakit Indonesia yang sempat rusak akibat bom. Dampak konflik ini juga berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga-harga bahan makanan. Harga membumbung selangit—sebutir telur bisa Rp50 ribu, ikan laut mencapai Rp1 juta per ekor.
Situasi harian ini, lambat laun membuat Indah dan tim semakin kuat. “Setiap hari ada yang syahid. Bahkan markas UN pun ikut dibom. Tak ada lagi tempat yang aman,” katanya. Meski begitu, Indah tak menyesal. “Saya merasa kami adalah orang-orang pilihan. Dan saya ingin kembali ke Gaza jika diberi kesempatan,” tutupnya dengan mata berkaca-kaca, menutup wawancaranya dengan EQUATOR TV. Untuk kisah selengkapnya, simak di channel: https://youtube.com/@equatortv.(RK)










