EQUATOR-TV, TARAKAN – Seminar Penguatan Kelembagaan dan Kemitraan Petani Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Utara, yang digelar oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kaltara memasuki hari kedua pada Selasa (27/05/2025), bertempat di Hotel Lotus Panaya, Kota Tarakan.
Agenda seminar hari ini berfokus pada pembekalan materi kepada para peserta, dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidang pengembangan SDM dan teknologi pertanian.
Dalam wawancaranya dengan tim liputan, Dr. Aang Kuvaini, M.Si selaku Wakil Direktur Bidang Kerja Sama Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE) Bekasi, menegaskan komitmennya dalam mendukung sektor sawit di Kaltara melalui pendidikan vokasi. “Kami dari Politeknik CWE ingin berkontribusi secara positif terhadap perkembangan industri sawit di Kaltara, melalui program pendidikan dan pelatihan SDM yang fokus pada bidang perkelapasawitan,” ungkapnya.
Aang juga menekankan pentingnya kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Kami telah melakukan evaluasi kurikulum, dengan menambahkan pendekatan teknologi informasi dan kami membawa jargon _smart farming_, perkebunan cerdas berbasis teknologi tinggi,” jelas Dr.Aang. Ia berharap pendekatan ini mampu menarik minat generasi muda untuk terlibat lebih jauh dalam sektor sawit.
Lebih lanjut, Aang juga mendorong sinergi antara sektor pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah daerah. “Ketika mahasiswa diberikan beasiswa oleh perusahaan atau pemerintah daerah, maka akan muncul rasa cinta, suka dan bangga terhadap pemerintah atau perusahaannya. Ini akan memperkuat loyalitas dan kontribusi mereka ke depan,” imbuhnya.
Sementara itu, dari sisi teknologi pertanian, Nicko Arywibowo, selaku General Manager Commercial PT. Tribuana Solusi Inovasi Teknologi (DJI Agriculture Indonesia) memaparkan manfaat drone bagi efisiensi kerja petani sawit. “Drone memberikan efisiensi luar biasa. Untuk aplikasi di lahan 1 hektare, hanya butuh waktu sekitar 9 menit,” terangnya dalam sesi presentasi.
Menurut Nicko, teknologi ini tidak hanya mempercepat pekerjaan, tapi juga mengurangi beban kerja manual yang selama ini melelahkan. “Petani bisa memfokuskan energi mereka ke hal lain seperti panen atau perawatan kebun, dibandingkan menyemprot manual yang sangat menyita waktu,” tambahnya.
Namun demikian, Nicko mengakui bahwa masih banyak petani yang belum familiar dengan teknologi ini. “Kami berupaya mengenalkan, memberikan training dan edukasi, agar petani memahami pentingnya penggunaan _drone_. Hari ini kami hadir di Tarakan, sebelumnya di Pekanbaru dan wilayah lain, bekerjasama dengan APKASINDO,” jelasnya.
Nicko pun berharap adanya dukungan dari berbagai pihak agar teknologi ini bisa lebih cepat menjangkau petani. “Tentu ini memerlukan inisiasi dari pemerintah. Harga drone untuk investasi awal masih berat bagi petani, tapi kami yakin dengan adanya dana hibah atau bantuan sarana pertanian, penggunaan drone bisa segera meluas,” tutupnya (VT).









