EQUATOR TV, BULUNGAN – Jelang pelaksanaan Pekan Daerah KTNA ke-III pada 29 September 2025 mendatang, DPKP Kaltara kembali menggelar rapat koordinasi persiapan, pada Senin pagi (15/9/2025) .
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 1, Gedung Gadis 2 ini dilakukan untuk memantapkan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan Pekan Daerah KTNA, mulai dari agenda kegiatan, susunan kepanitiaan, sampai teknis pelaksanaan di lapangan.
Kepala DPKP Kaltara, Ir. Heri Rudiyono, M.Si, menyampaikan bahwa Pekan Daerah KTNA ini rencananya akan dibuka di Islamic Center, Tarakan.
“Ya, jadi hari ini kita rapat pemantapan pelaksanaan Pekan Daerah Petani Nelayan. Rencananya akan dilaksanakan tanggal 29 September, dibuka di Tarakan. Kita rapat dengan teman-teman KTNA provinsi, kabupaten, serta OPD terkait, untuk memfinalkan susunan acara dan kegiatan lainnya,” jelas Heri.
Pihaknya berharap pembukaan acara bisa dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian. Meski begitu, kepastian masih menunggu arahan lebih lanjut.
“Kemarin sudah kami lapor ke Pak Gubernur. Apapun hasilnya nanti, yang penting kita siap, termasuk kalau acara benar dibuka oleh Pak Menteri,” ujarnya.
Rapat juga dihadiri sejumlah pihak, di antaranya Sekda Tarakan, Dinas Pertanian se-Kaltara, perwakilan OPD, KTNA, hingga unsur TNI dan Polri. Peserta inti Pekan Daerah KTNA ini diperkirakan mencapai 700 orang, belum termasuk masyarakat sekitar yang juga akan hadir.
“Kalau dihitung-hitung, kemungkinan yang hadir bisa seribu orang lebih. Karena itu, kita juga bahas soal keamanan dan kenyamanan, seperti jalur masuk-keluar, hingga teknis pengawalan pejabat dari hotel ke lokasi acara,” terangnya.
Selain agenda utama, Pekan Daerah KTNA tahun ini juga akan menampilkan berbagai inovasi pertanian modern. “Intinya kita sudah mengarah ke modernisasi dan digitalisasi pertanian. Jadi kita libatkan petani milenial dengan menampilkan teknologi pertanian, smart farming, supaya mereka lebih tertarik ke dunia pertanian,” tambahnya.
Ia juga berharap kegiatan ini berjalan lancar sesuai rencana, sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian lokal. “Manfaatnya besar, ada pergerakan ekonomi untuk UMKM, produk lokal bisa dikenal, dan ada dukungan dari pelaku usaha, baik penyedia pupuk, bibit, obat pertanian, maupun sektor perkebunan,” pungkasnya. (RT)










