EQUATOR TV, BEKASI – Masalah pengasuhan dan penitipan anak kembali menjadi perhatian Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak.
Hal ini diwujudkannya dengan menggelar Workshop Pelaksanaan Pengasuhan Anak untuk para perwakilan Taman Anak Sejatera (TAS) di seluruh Indonesia, lewat kegiatan bertemakan “Pengasuhan Anak Melalui Transformasi Taman Anak Sejahtera yang Profesional, Responsif, Inklusif, Modern, dan Adaptif (TAS PRIMA)” di Hotel Santika Premier Bekasi, 29 September – 2 Oktober 2025.
Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kahono Agung Suhartoyo, M.Si, dalam wawancaranya dengan Tim Liputan Equator TV pada Selasa pagi (30/9/2025), menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mengembalikan fungsi Taman Anak Sejahtera (TAS) sebagai wadah pengasuhan anak yang lebih berkualitas.
“Taman Anak Sejahtera PRIMA tentunya menjadi satu layanan yang akan memberikan layanan terhadap segmen anak 0–8 tahun. Jangka pendeknya adalah membuat regulasi sebagai payung hukum, menyusun SOP, memperkuat SDM pengasuh, menyiapkan akreditasi lembaga, serta memastikan adanya sertifikasi bagi para pelaksana,” ujarnya dalam sesi refleksi kebijakan TAS.
Menurutnya, konsep TAS PRIMA menjadi wajah baru dalam pengasuhan anak. Transformasi ini diharapkan melahirkan layanan yang profesional, responsif, inklusif, modern, dan adaptif sesuai kebutuhan masyarakat.
Saat ini tercatat ada 252 TAS pascapandemi COVID-19, dengan 125 TAS telah terakreditasi. Dan sebagai langkah awal, Kemensos berupaya untuk membuka kembali program pengasuhan TAS yang diperuntukkan untuk anak usia 0–8 tahun ini.
Dikesempatan ini, Agung juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat sempat lebih fokus menggarap Sekolah Rakyat (SR) sebagai prioritas. Namun setelah capaian SR melampaui harapan Presiden, kini giliran TAS mulai digarap serius oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial.
“Selama ini persepsi masyarakat masih pada penitipan anak. Tapi di TAS PRIMA ini ada kepastian bahwa anak-anak terpenuhi kesehatannya, pendidikannya, pengasuhannya, hingga kesejahteraannya. Sehingga anak bisa tumbuh kembang secara baik dengan gizi, kesehatan, dan pendidikan yang terjamin,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa program TAS sejalan dengan kebijakan Kemensos untuk mendorong kemandirian masyarakat secara menyeluruh. “Bantuan sosial itu sifatnya sementara, pancingan saja. Selanjutnya masyarakat tidak boleh bergantung pada bantuan, tapi bisa menuju graduasi dan mandiri secara utuh,” tegasnya.
Kemensos menargetkan strategi jangka pendek berupa konsolidasi kelembagaan, peningkatan kapasitas tenaga pengasuh, hingga percepatan akreditasi TAS.
Pihaknya juga berharap TAS PRIMA ini dapat menjadi bagian dari “care economy” yang mendukung kesejahteraan anak-anak di seluruh Indonesia. (RK)










