EQUATOR TV, BULUNGAN —Pawai Budaya Bulungan 2025 berhasil menarik minat ribuan masyarakat yang memadati Tepian Sungai Kayan sejak Sabtu pagi (18/10/25).
Kegiatan ini menjadi salah satu acara paling dinanti masyarakat dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Bulungan ke-65 dan Kota Tanjung Selor ke-235.
Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd., M.Si., yang hadir langsung di lokasi kegiatan, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang luar biasa. “Alhamdulillah, tahun ini kita bisa menggelar pawai budaya dengan peserta terbanyak, sekitar 11 ribu orang dari 74 desa, 10 kecamatan, hingga perwakilan organisasi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa. Ini bukti kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat Bulungan,” ujarnya.
Pawai budaya kali ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud penghormatan terhadap identitas dan nilai-nilai luhur masyarakat Bulungan. “Ini adalah panggung kebanggaan budaya kita. Setiap peserta membawa pesan kuat tentang keberagaman, persatuan, dan kekayaan tradisi lokal yang harus kita jaga bersama,” tuturnya.
Pawai dimulai dari Jalan Ahmad Yani, melewati Kampung Arab, dan berakhir di Tugu Cinta Damai. Sepanjang rute, warga tampak antusias mengabadikan momen dengan ponsel. Beragam pakaian adat dari berbagai suku, mulai dari Dayak, Tidung, Bugis, Jawa, Toraja, Batak, hingga Tionghoa, ditampilkan di pawai ini.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bulungan, Marleni, menjelaskan bahwa jumlah peserta pawai tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau tahun 2023 hanya sekitar 9.800 peserta, tahun ini mencapai 11 ribu orang. Antusias masyarakat luar biasa, mereka sudah datang sejak pagi,” ungkap Marleni yang akrab disapa Leni.
Tahun ini konsep pawai sedikit berbeda karena tidak lagi menghadirkan kendaraan hias, melainkan lebih menonjolkan penampilan budaya dari tiap kecamatan dan desa.
Dengan mengusung tema Bulungan Berdaulat, Unggul, dan Berkelanjutan, perayaan tahun ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat masyarakat dalam membangun daerah tanpa melupakan akar budayanya. Selain pawai, rangkaian peringatan hari jadi juga akan diisi dengan festival seni dan budaya lokal yang dipusatkan di Kebun Raya Bunda Hayati. (RT)










