EQUATOR-TV, BULUNGAN – Dibawah terik matahari, seorang pria bernama Jamhari (48 tahun) ini, dikenal setia mendorong gerobaknya dengan sepeda, sepanjang jalanan Kota Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).
Lewat gerobak es dagangannya, Jamhari menafkahi keempat orang anaknya. Dan siapa sangka, dari sinilah ia berhasil mengantarkan anak pertamanya sampai ke Negeri Sakura, Jepang.
Kesehariannya bukanlah sebagai pedagang besar, melainkan hanya sebagai seorang penjual es yang merintis usahanya dari nol selama 13 tahun.
Dalam wawancaranya pada awak media, Jamhari menceritakan bagaimana awal perjuangannya memulai usaha kecil-kecilan ini, demi menyambung hidup dan masa depan keempat anaknya.
“Modal pertama jualan itu Rp175.000, Ibaratnya biar beli sedikit yang penting jadi dan jalan”, ungkapnya pada Selasa (01/09/2026).
Produk andalannya pun ia beri nama yang unik dan bermakna candaan, seolah menjadi penyemangat bagi pembeli maupun dirinya sendiri dalam menjalani rutinitasnya berjualan.
“Feeling, Langsung begitu Es Awet Muda Anti Galau, Kenapa bilang ke orang bisa awet muda? Ya, karena es yang kemarin kita buat, masuk kulkas jadi awet lah dia, dan kalau tidak ketemu saya jualan, pasti galau mencari”, ujarnya dengan bercanda.
Pendapatan yang didapatnya setiap hari tidak tetap. Kadang banyak, kadang sepi. Namun baginya apa pun hasil yang didapat adalah rezeki yang patut disyukuri.
“Kalau kita, pemasukannya nggak tentu, yang penting dapat berapa-berapa, Alhamdulillah disyukuri”, ucapnya.
Dengan pendapatan yang pas-pasan tersebut, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya, tetap terpenuhi dengan baik.
“Anak empat, mulai dari SD sampai SMA, Alhamdulillah berkecukupanlah, apa yang dia mau ada semua. Setelah dia kuliah kita mencari duit, jadi berkeliling terus lah dari hutan kota, tembus padaelo, mutar pelabuhan speed besar, pulang”, ungkapnya.
Perjuangannya tak berhenti saat pulang ke rumah, hari-harinya berulang dengan pola yang sama namun lelah tak pernah dijadikan alasan, karena baginya, memenuhi kewajiban sebagai ayah adalah prioritas utama.
“Sampai ke rumah, motong buah lagi, menyambung untuk besok lagi, begitu lah setiap hari, mau dibilang lelah, tapi kewajiban untuk anak”, tambahnya.
Usaha dan kesabarannya ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Anak pertamanya terbukti cerdas dan tekun belajar, hingga berhasil meraih beasiswa siswa prestasi.
Keberhasilan ini membawa kabar membanggakan, yakni anaknya terpilih mewakili kampusnya untuk berangkat ke Jepang.
“Alhamdulillah kan dia ibaratnya pintar juga, karena dia dapat Beasiswa nilai tertinggi. Nah, dia dipilih untuk mewakili kampusnya ke Jepang” ucapnya.
Meski sesekali menghadapi pelanggan yang kurang menepati janji, ia tetap berhati lapang. Baginya, kejujuran dan kesabaran adalah bekal yang lebih berharga daripada keuntungan sesaat.
“Banyak orang yang pesan, berjanji sudah deal juga tapi nggak diambil. Tapi kita sabar aja mungkin belum rejeki”, ujarnya.
Pengalaman hidup yang ia jalani juga mengajarkannya prinsip rendah hati, ia juga berpesan kepada siapa pun, terutama generasi muda, agar tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan apa pun yang halal.
“Jangan malu, apa adanya, jangan sombong, yang penting jangan gengsi lah. Kadang anak sekarang ini kan lihat kita seperti ini ditertawakan”, tutupnya.(NA)









