EQUATOR-TV, TANA TIDUNG – Agar persawahan produktif warga di Desa Sapari, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara) terhindar dari kepungan banjir kiriman, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP) melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) kembali melakukan penyambungan irigasi.
Penyambungan irigasi dari Induk Sungai Sesayap melalui pembuatan instalasi irigasi tersebut, dilakukan dengan menggunakan alat berat.
Melalui penyambungan ini, diharapkan persawahan produktif warga di Desa Sapari dapat terhindar dari kepungan banjir kiriman sungai saat hujan turun.
Mengingat selama beberapa tahun belakangan, problematika produksi padi yang terus merugi, salah satu penyebab utamanya adalah karena gagalnya panen akibat sawah petani tergenang air banjir.
Karenanya, DPUPRPKP Tana Tidung melalui Bidang SDA menganggarkan pengerjaan proyek normalisasi irigasi sungai yang melintasi areal persawahan tersebut.
Dalam pengerjaan fisik proyek, Bidang SDA membuat irigasi yang pengurai aliran sungai.
Selain itu, pihak pelaksana juga menyambungkan saluran dari anak sungai yang melintasi persawahan tersebut, agar air tidak terfokus dalam satu aliran saja, yang menjadi penyebab timbulnya luapan yang tidak terkendali.
Menurut Kordinator Lapangan Bidang SDA DPUPRPKP Tana Tidung, Idris mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan perbaikan irigasi dan membangun irigasi sambungannya, agar mengurai arus air yang dikirm dari sungai besar.
“Nah, ini rencana kita kan, ini dibuka sawah ini juga. Kalau ini tidak kita buka, airnya meluap naik, masuk sini. Makanya kita buka, kita kasih lebar salurannya, jadi air itu terbagi, “ucap Idris.
“Kita ini sudah kurang lebih ada 6 hari. Target ini alat sudah mau kita keluarkan, bsok paling lambat sudah selesai,” tegasnya.
Pekerjaan sudah berlangsung sekitar 2 minggu dan irigasi buatan yang disambung ke normalisasi irigasi yang ada, hampir mencapai total panjang 1 kilometer.
Kondisi sawah di Desa Sapari saat ini, sudah bisa dikendalikan. Persawahan pun mulai dibajak warga dan dipersiapkan untuk musim tanam berikutnya.
Jonathan, salah satu warga desa yang juga sekaligus pekerja normalisasi dan petani persawahan mengatakan bahwa pembuatan irigasi dan normalisasi yang dikerjakan menunjukkan perkembangan yang sangat maju.
“Kalau gak salah 400 meter itu, sampai kesini. Sekarang lancar sudah airnya, dari sana pun lancar sudah airnya terus sampai ke sungai besar,” ucap Jonathan lega.
“Itu dulu gak bisa airnya pak, karena disumbat mulutnya. Nah, sekarang sudah dibuka pak, mulutnya disana itu lancar sudah, sampai ke sungai besar,” imbuhnya.
“Kami ucapkan terimakasih atas bantuannya pemerintah sama kami, petani Sapari. Dan sama Dinas PU, terimakasih bantuannya pak”, imbuhnya.
Sementara itu, Yohanes petani lainnya juga menyampaikan hal senada senada.
“Ini 30 meter lebih. Satu orang setengah hektar. 50 x 100, yang ngasih desa/pak Kades. Harapan kami jangan sampai ditempat ini saja, supaya dapat dilanjut kepada masyarakat yang belum mendapat irigasi seperti ini, supaya adil,” ujar Yohanes.
Para petani merasa yakin, bahwa sawah warga tidak akan lagi kebanjiran, sebab kualitas sungai sudah bagus dengan aliran air yang bergerak lancar tanpa hambatan.
Sebelumnya, irigasi tersumbat dangkal dan banyak serasah (guguran daun, ranting) yang menghambat laju air, sehingga masuk ke areal persawahan.
Kini, dengan menggunakan alat berat irigasi, kualitasnya sudah lancar kembali, dan petani diminta agar terus menjaga kedangkalan irigasinya, agar tidak menyebabkan luapan air kembali.
Aktivitas petani persawahan di Desa Sapari memang selama ini dinilai cukup berjalan, namun produksi persawahan mereka belum maksimal, akibat adanya genangan banjir tersebut.
Desa ini ditopang oleh 2 kelompok tani yakni Kelompok Tani Gemilang dan Kelompok Tani Raye, dengan jumlah total kelompok tani mencapai 60 orang. Kelompok inilah yang menggarap persawahan di desa sapari hingga saat ini.(SMO).








