EQUATOR-TV, BULUNGAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kalimantan Timur (Kaltim) kini bekerjasama untuk menangani kondisi ruas jalan akses strategis milik PT Sumalindo yang menghubungkan wilayah Malinau dengan Mahakam Ulu.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kaltara, Bertius, S.Hut, dalam keterangannya pada Selasa (07/07/2026).
“Jadi memang dua provinsi ini Kaltim dan Kaltara kan sesungguhnya adalah provinsi yang berbatasan langsung dan itu ada dua wilayah Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kaltim. Jadi di Kaltara itu, Bulungan dengan Berau, Malinau dengan Mahakam Ulu,” ucap Bertius.
“Nah berkenaan dengan Bulungan–Berau kan akses kita sudah bagus, artinya sudah layak lah distribusi barang maupun manusia sudah lancar. Namun yang masih bermasalah atau menjadi tantangan pembangunan itu yang di Malinau ke Mahulu,” ujar Bertius.
Bertius juga menjelaskan ruas jalan tersebut merupakan satu-satunya akses darat bagi warga wilayah Apokayan di Malinau, yang mencakup empat kecamatan yaitu Sungai Boh, Kayan Hilir, Kayan Hulu, dan Kayan Selatan.
“Ruas jalan ini adalah urat nadi perekonomian warga Apokayan yang terdiri dari empat kecamatan tadi. Dulu waktu zaman PT Sumalindo itu masih beroperasi itu hanya ditempuh kurang lebih 4 jam,” ungkapnya.
“Tapi sekarang, itu bukan jam lagi tapi hari bisa sampai 2 sampai 3 hari. Bahkan kami kemarin dari titik 0 km sampai 95 itu membutuhkan waktu 9 jam. Nah itu baru sampai 95 belum sampai 147. Karena melalui beberapa ruas sungai yang jembatannya sudah rusak. Tidak bisa dilalui sehingga mobil itu harus terjun ke sungai menyeberang. Jadi mobilnya harus berenang. Kategorinya rusak berat,” sambungnya.
Kondisi ini menghambat pasokan logistik, mengingat akses lain yang tersedia adalah jalur sungai yang penuh tantangan maupun penerbangan Susi Air dengan kapasitas sangat terbatas. Padahal, jalan ini juga memiliki peran strategis lebih luas.
“Nah kepentingan lain selain dari sisi itu ini akan menjadi jalur akses lintas negara. Jadi negara bagian Malaysia, Sarawak itu melalui PLBN Long Nawang itu bisa berkunjung ke Indonesia melalui jalur ini. Jadi jalur itu dari PLBN Long Nawang itu melalui tadi ruas Sumalindo itu turun ke Long Bagun itu bisa tembus sampai ke IKN,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan perbaikan jalan ini nantinya tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pemprov Kaltim telah menjalin kerja sama dengan PT Tujuan Mulia Makmur (TMM), pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batu Kelo, untuk menangani ruas hingga batas provinsi.
“Jadi tidak menggunakan dana APBD, tapi menggunakan dana dunia usaha yaitu PLTA tadi. Nah ini yang perlu ada MOU-nya dengan PT TMM tadi,” ujarnya.
“Karena mereka PLTA itu kan dibangun di Sungai Boh. Nah hulunya Sungai Boh ini berada di Kayan Selatan, wilayah Kaltara. Jadi bolehlah dikatakan bahwa itu adalah bagian dari kontribusi CSR-nya PLTA Batu Kelo kepada Kalimantan Utara,” sambungnya.
Kini pekerjaan perbaikan sudah mulai berjalan tahun ini, dengan target penyelesaian ruas hingga kilometer 95 pada akhir tahun, dan jembatan Sungai Mahakam selesai 2027, dan pemerintah berharap seluruh ruas berfungsi baik pada 2028.
“Nah harapan kita 2028 itu sudah bisa baik. Kesiapan anggaran kita berharap anggaran ini dari PLTA. Dari perusahaan pembangun listrik tenaga air tadi, jadi kita dari APBD tentu menyiapkan anggaran untuk koordinasi,” tutupnya.
Dan hingga saat ini Pemprov Kaltara akan segera menyusun kesepakatan dengan pihak PLTA untuk menangani sisa ruas 25 km di wilayah perbatasan.(NA)









