EQUATOR-TV, TANA TIDUNG – Program peningkatan produksi persawahan di Kabupaten Tana Tidung (KTT) terus diperbaiki kualitasnya, melalui pembangunan infrastruktur tata kelola pengairan ke wilayah persawahan.
Salah satu desa yang kini sedang menjalankan proyek perbaikan sirkulasi pengairan melalui normalisasi irigasi dan pembuatan drainase tersier beton adalah Desa Sapari.
Di wilayah ini terdapat sekitar 50 hektar lahan percetakan sawah yang digarap oleh warga lokal suku Dayak Lundayeh yang dikenal sebagai suku petarung dan memilki pengalaman dalam mengembangkan sektor pertanian dan persawahan dimanapun mereka bermungkim.
Sayangnya, produksi padi sawah petani belum mencapai titik produksi yang memuaskan. Banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya soal lahan yang sebagian bergambut, pengairan yang masih tradisional, serta luapan banjir yang merendam sawah-sawah petani disaat hujan lebat turun.
Menurut Yohanes, salah seorang petani di Desa Sapari mengungkapkan bahwa sejauh ini lahan sawah mereka selalu “acap” (sering tergenang) atau banjir saat hujan turun, karena irigasinya yang tidak mendukung. Bibit padi yang ditanam kerap membusuk karena tenggelam di rendam air bah kiriman dari sungai.
Selain itu faktor kesesuaian bibit juga yang menjadi penyebab produksi padi mereka tak maksimal. Alasannya, padi jenis lokal seperti padi Adan, padi Koyak Roti adalah varietas padi lokal yang lebih cocok tumbuh di desa ini, dibandingkan dengan padi unggul bantuan pemerintah melalui Dinas Pertanian.
Berbagai alasan inilah yang memutuskan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaa Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPRPKP) Kabupaten Tana Tidung, untuk melakuan proyek normalisasi dan pembangunan drainase tersier di desa tersebut.
Kepala Bidang SDA DPUPRPKP Tana Tidung, Muhammad Noor Huda, mengatakan bahwa kegiatan pembuatan drainase berkonstrusi beton sudah dibangun di lahan persawahan Desa Sapari saat ini.
“Salah satunya yang sedang kita kerjakan itu normalisasi, irigasi di daerah Desa Sapari, sekarang sedang terlaksana. Kurang lebih target kita 1 kilometer, ” terang Noor Huda.
“Kita saat ini lagi bekerja dengan menggunakan tipe swakelola, dimana kita menggunakan alat sendiri dan BBM kita adakan”, ucapnya.
“Nilai positifnya itu, untuk membantu petani mengairkan sawah sesuai dengan IP (Indeks Pertanaman) kerjasama dengan Dinas Pertanian, karena kita melaksanakan ini juga combine dengan Dinas Pertanian. Sehingga panen di wilayah Sapari dan sekitarnya bisa sesuai dengan target yang mereka inginkan, “ulasnya.
SDA DPUPRPKP Tana Tidung, menargetkan proyek itu selesai dalam kurun waktu sebulan untuk mengatur sirkulasi perairan sekitar, kurang lebih 20 hektar sawah dari total 50 hektar sawah yang ada di desa tersebut.
“Tahun ini kita mengusulkan melalui aplikasi SIPURI dan dapat, kurang lebih 25 miliar, dengan rincian: 5 miliar di Tidung Pale Seberang, kurang lebih 10 miliar di Tanah Merah dan 9 miliar di Sedulun. Yang di Sapari, mungkin kurang lebih 20 an Hektar, cakupan yang untuk dialirkan. Karena itu sawah memang sudah ada salurannya yang tertutup, kita bantu untuk mengalirkan,” ucapnya.
Noor Huda juga menjelaskan bahwa untuk 2 proyek fisik di lahan persawahan Desa Sapari, menggunakan dua pos anggaran yakni anggaran APBD KTT untuk normalisasi irigasi sekitar 1 kilometer dan proyek anggaran APBN melalui BWS sepanjang 500 meter di berbagai jaringan drainase persawahan.
“Rencana di Perubahan ini, di Sapari kita akan coba di SIPURI nya lagi, ini cuman galian yang kita kerjakan. Rencana kita SIPURI yang 2027 itu menggunakan pasangan batu untuk saluran primernya. Jadi kita coba usulkan, insyaallah tahun ini kita coba masukan di perencanaannya dulu, “imbuhnya.
Alat berat berupa ekskavator kini sedang merenovasi irigasi sepanjang 1 kilometer. Normalisasi irigasi inilah yang diharapkan mampu meningkatkan produksi pertanian persawahan di Desa tersebut.
Pada bagian lain, Yohanes selaku petani sawah juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang memberikan jalan untuk mencegah terjadinya banjir di sawah mereka. Hanya saja Yohanes meminta agar pembangunan drainase dilakukan secara merata dan adil, agar petani semua kebagian produksi maksimal.
Menanggapi hal itu, Noor Huda mengatakan bahwa hal tersebut sudah diusulkan agar dana 25 miliar kembali dapat dialokasikan untuk melanjutkan proyek normalisasi dan drainase tersier di Desa Sapari.(SMO)









