EQUATOR-TV, BULUNGAN -Kehadiran sejumlah ojek online, perlahan kian mengubah nasib para pengemudi ojek pangkalan yang sehari-hari mangkal di beberapa titik pangkalan di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.
Dulu pangkalan selalu ramai, kini mereka harus sabar menunggu berjam-jam demi satu penumpang saja.
Di tengah arus perubahan ini, Idris, salah satu ojek pangkalan, tetap setia menanti di pangkalannya meski jumlah penumpang yang berhenti kian berkurang.
Dalam penuturannya pada Tim Liputan, Kamis (02/07/2026) Idris mengaku telah menghabiskan puluhan tahun semasa hidupnya di dunia pengojekan ini.
“Kalau saya sejak tahun 85 ya sampai sekarang, kalau mulai ojeknya 90-an,” ucapnya.
Selama pekerjaannya, ia tak jarang menghadapi kejadian yang tak menyenangkan, namun hatinya memilih untuk tak menyimpan dendam.
“Sering, tapi ikhlaskan aja, kadang-kadang juga ada yang model preman, nah gak bayar kita, enggak apa-apa, apalagi kadang-kadang ODGJ, banyak tapi kita ikhlaskan aja,” ujarnya.
“Mungkin kita korbankan 10 ribu, alhamdulillah kalau Tuhan memberikan bisa lebih daripada itu. Yang penting kita enggak usah memaksa, kita cari yang halal, ” sambungnya.
Tanpa identitas resmi yang menempel di tubuhnya, Idris tidak punya kuasa lain selain berserah pada keadaan.
“Kalau kita ini sekarang kan tidak ada atributnya, namanya juga ojek pangkalan, ya tunggu nasibnya aja. Kalau ada penumpang, ya kita tarik, kalau enggak ada ya kita bersyukur,” ungkapnya.
Penghasilan yang didapat pun kini tak lagi menentu, bahkan seringkali jauh dari harapan untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah kadang-kadang enggak dapat. Kalau untuk hari ini alhamdulillah yang ada 20 ribu, baru dua kali narik. Kalau per hari kadang-kadang kan tergantung rejeki,” ucapnya.
Satu hal yang paling ia harapkan adalah kepastian aturan, sehingga tak ada lagi kecurigaan diantara sesama pencari nafkah.
“Kalau keluhan kami, ya untuk ojek online, ya kalau bisa pakai atribut, kalau bisa nanti pemerintah bikin kan surat perjanjian, jadi kita enggak saling menipu,” ujarnya.
Ia pun menyesalkan kesepakatan yang dulu pernah dijalin kini seolah diabaikan begitu saja di lapangan.
“Maksudnya sekarang ojek online itu illegal, kan dulu ada perjanjiannya 50 meter kan, nah sekarang bukan 50 meter lagi, malah di depan kita ngambil nanti kita tanya, itu bukan penumpang, itu keluarga,” ungkapnya.
Ia juga berharap agar pemerintah segera mengatur dan menertibkan persaingan ini agar adil bagi semua pihak.
“Mudah-mudahanlah pemerintah bisa membantu kita, maksudnya membantu mengurus, dan memperbaiki,” tutupnya.(NA)









