EQUATOR TV, TARAKAN – Di tengah maraknya pemberitaan negatif yang menyoroti layanan day care, tidak semua lembaga penitipan anak berjalan seperti yang ditudingkan. Masih banyak pengelola day care yang justru menegaskan komitmennya dalam memberikan pengasuhan yang aman, sehat, dan terstandar, sekaligus berkontribusi pada kegiatan sosial, seperti halnya TAS (Taman Anak Sejahtera), yang tidak sepopuler TPA (Tempat Penitipan Anak).
Ketua Yayasan Taman Anak Sejahtera (TAS) Kampung Satoe, Rina Kurnia Handayani, ST, M.IP yang juga Ketua PUSPA (Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan Dan Anak) Kota Tarakan ini mencoba angkat bicara.
Rina menegaskan bahwa masyarakat perlu lebih jernih dalam menyikapi informasi yang beredar, terkait prilaku oknum salah satu day care di Jogjakarta dan Aceh.
Menurutnya, generalisasi terhadap seluruh day care atau baby day care justru berpotensi meresahkan para orang tua yang memang membutuhkan layanan pengasuhan ini, dikarenakan kedua orang tua balita berprofesi sebagai pekerja, yang tidak bisa merawat dan mengasuh anaknya sendiri dirumah.
“Tidak semua day care seperti yang diberitakan. Banyak lembaga yang menjalankan perannya secara maksimal, ada SOP khusus, berusaha selalu profesional, dan bertanggung jawab. Termasuk rekan-rekan TAS di seluruh Indonesia,” tegasnya.
TAS Kampung Satoe sendiri, yayasan yang dipimpinnya sejak tahun 2016 dan diresmikan oleh Menteri Sosial RI-Khofifah Indar Parawansa pada 13 Mei 2016 di Tarakan, sekitar 10 tahun yang lalu ini, mungkin menjadi salah satu dari sekian banyak day care yang berusaha menjalankan perannya.
Kehadiran Yayasan TAS Kampung Satoe, menjadi bagian dari jaringan nasional Taman Anak Sejahtera (TAS) yang jumlahnya pada 2016 lalu saja, telah mencapai lebih dari 200 TAS di seluruh Indonesia. Dan TAS Kampung Satoe bahkan tercatat sebagai TAS ke-170 di Indonesia dan kala itu masih menjadi satu-satunya TAS di Tarakan dan Kalimantan Utara.
Rina menjelaskan, penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara layanan penitipan anak yang ada.
“Dulu awalnya, dibawah naungan Kementerian Pendidikan, dikenal istilah TPA (Tempat Penitipan Anak). Sementara TAS (Taman Anak Sejahtera) berada di bawah pembinaan Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat setempat, dengan mandat yang lebih luas.
“Kalau TAS, tidak hanya pengasuhan anak dari keluarga umum atau customer berbayar, tapi juga memiliki aktivitas sosial, seperti membantu balita dari keluarga miskin, terlantar, hingga yang mengalami stunting/gizi buruk, serta balita kurang beruntung lainnya. Jadi ada nilai kemanusiaan yang TAS jalankan,” jelasnya.
Sebagai lembaga berbasis yayasan non-pemerintah/NGO (Non Goverment Assosiation) yang bergerak di bidang sosial dan pengasuhan anak, TAS Kampung Satoe memberikan layanan bagi balita usia 3 bulan hingga 5 tahun, termasuk anak-anak dari kelompok rentan.
Berlokasi di ruko Equator TV, Jalan Bhayangkara, Tarakan Barat, lembaga ini berusaha mengedepankan standar kesehatan, keamanan, serta tumbuh kembang anak, lewat pengasuhan yang menggunakan tenaga kesehatan, bidan dan perawat.
Fasilitas yang disediakan meliputi ruang tidur balita/bayi, permainan edukatif, dengan jadwal kegiatan harian yang terstruktur mulai dari jam makan, tidur, hingga stimulasi edukasi.
Tak hanya itu, pemantauan tumbuh kembang anak juga dilakukan secara berkala, termasuk pengukuran tinggi dan berat badan, serta laporan aktivitas harian secara langsung pada orang tua.
Menurut Rina, kehadiran TAS Kampung Satoe diharapkan tidak hanya menjadi solusi bagi para orang tua yang bekerja, tetapi juga menjadi wadah berbagi kepedulian sosial.
“Dengan menitipkan anak di tempat kami, secara tidak langsung para orang tua juga turut membantu anak-anak balita kurang mampu yang menjadi binaan yayasan kami,” ujarnya.
Ia pun berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu mencerminkan kondisi seluruh day care di Indonesia. Transparansi, profesionalisme, serta kepedulian sosial, menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap layanan penitipan anak.
“Silakan masyarakat datang langsung, melihat, dan menilai sendiri. Kami terbuka,” pungkas Rina yang juga dikenal sebagai salah seorang jurnalist dan pegiat perempuan dan anak ini (IZ).











